Perjalanan Pertanian Indonesia yang Salah Jalan

Berbicara tentang sejarah pertanian Indonesia adalah sama hal dengan berbicara bermacam penyimpangan yang hingga saat ini masih menjadi benalu di sektor struktural. Pertanian di Indonesia dimulai dengan cara yang bertolak belakang dengan negara-negara barat yang memulai dengan membagi-bagikan lahan kepada petani. Namun, yang terjadi di indonesia justru tanah rakyat dirampas untuk dibagi-bagikan kepada pengusaha swasta. Isu terbaru tentang perebutan lahan ini masih terjadi di daerah kulonprogo. Para petani lahan pantai yang menggantungkan hidup dari sana harus berperih darah melawan para pihak swasta, asing, maupun pemerintahan yang hendak merebut lahan mereka.

Untuk menelusuri sejarah pertanian di Indonesia akan lebih mudah jika menelusuri dokumen peraturan/perjanjian yang terkait dengan hak pertanahan maupun pertanian. Hal seperti yang dijelaskan di paragraf sebelumnya dimulai pertama kali ketika diterbitkannya sebuah Undang-Undang Agrarische Wet 1870, ini sebuah peraturan yang keberpihakannya hanya untuk memberikan kemudahan pada kapitalisme modal untuk menyewa lahan yang luas dalam periode waktu tertentu. Hukum ini pun mengatur hak penggunaan lahan selama 75 tahun dan memberi peluang untuk menjadikan tanahnya sebagai agunan kredit. Peraturan ini muncul karena pada saat masa Tanam Paksa, para kapitalisme bermodal besar hanya diperbolehkan sebatas menyewa tanah saja. Sehingga penjajah belanda pada waktu itu ingin memiliki sebanyak-banyaknya lahan dengan memaksa negara jajahannya mengeluarkan hukum agraria tersebut. Maka tak heran jika sejarah berkata seperti ini jika saat ini tak ada petani yang mampu memiliki lahan yang sangat luas dan dapat digunakan untuk periode yang lama. Hukum kolonial seperti Agrarische Wet 1870 ini pulalah yang mengawali sejarah rakyat tani yang selalu diselimuti pula sejarah kelam kemelaratan, kemiskinan, keterbelakangan, eksploitasi, dan penindasan.

Oleh karena itu, sepertinya hanya ada satu cara untuk melukiskan nasib penduduk petani yaitu “terendam air sampai ke leher sehingga ombak kecil sekalipun cukup untuk meneggelamkannya”. Memang kondisi tersebut karena petani kita hanya buruh tani atau petani gurem yang hanya memiliki lahan tak luas. Mereka bercocok tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang justru kebanyakan belum juga mampu mencukupi. Ini semua terjadi akibat konsentrasi kepemilikan lahan secara perorangan semakin meluas. Di jawa justru terjadi kepemilikan tanah secara partikelir oleh tuan-tuan tanah yang secara sengaja mengeksploitasi buruh tani. Dengan cara memberlakukan kewajiban bayar pajak dan pelayanan kerja tak berupah pada tuan tanah. Inilah saat kali pertama kapitalisme muncul dengan penerapan sistem tenaga kerja upahan pabrik di pertanian industri komersial di kota-kota besar. Kelompok kapitalis awal ini yang akan menjadi dasar dari kapitalisme pertanian perkebunan periode berikutnya.

Penindasan terhadap petani tidak sampai disitu, bahkan porsi terbesar dilakukan pula oleh penguasa pada zaman raja-raja kuno dengan menerapkan sistem tanam paksa tahun 1930-1870. Berlanjut lagi ke era pendudukan jepang selama tiga setengah tahun petani dipaksa menanam untuk memenuhi kebutuhan perang mereka. Bahkan setelah kemerdekaan, namun dengan kemasan yang lebih halus tanam paksa masih seringkali terjadi. Salah satunya melalui pelaksanaan sistem Bimas (bimbingan massal) yang didasarkan pada Instruksi Presiden (Inpres) tahun 1968. Juga dalam program tebu rakyat intensifikasi (TRI), tata niaga cengkeh, dan lain-lain. Ironisnya, dibalik sistem pertanian paksa tadi kondisi petani kita masih saja terjebak sebagai petani gurem atau buruh tani saja.

Awal cerita pertanian pasca kemerdekaan dimulai setelah indonesia mendapat kedaulatan penuh tahun 1949 dan sedang menghadapi masalah perekonomian yang sangat mendesak utnuk segera diatasi. Memasuki dekade 1950-an, sektor ekonomi modern masih didominasi oelh perusahaan-perusahaan milik belanda yang telah beroperasi sejak jaman kolonial. Menghadapi situasi demikian, berkembang pelbagai pemikiran ekonomi dari para tokoh pemimpin saat itu, yang muaranya adalah apa yang disebut dengan “ekonomi nasional” atau “nasionalisme ekonomi”. Aspirasinya mencakup tiga aspek utama. Pertama, suatu perekonomian yang beragam dan stabil, dalam arti ditiadakannya ketergantungan yang besar terhadap ekspor bahan mentah. Kedua, suatu perekonomian yang berkembang dan makmur dalam konteks pembangunan ekonomi. Ketiga, suatu perekonomian pribumi, yang berarti dominasi ekonomi Barat dan etnis Tionghoa harus dialihkan kepada orang-orang Indonesia.

Atas dasar ketiga hal tadi para pendiri negeri segera memikirkan masalah agraria. Dua tokoh sentralnya Iwa Kusumasumantri dan Bung Karno. Pada sisi lain, pemerintah memfokuskan diri pada pembangunan pertanian pangan, yang spesifik pada upaya swasembada beras, khususnya sistem penyuluhan pertanian yang menitikberatkan pada tercapainya target produksi dalam waktu yang pendek. Untuk mendukung program tersebut muncullah Badan Pendidikan Masyarakat Desa (BPMD) sebagai badan penyuluh pertanian. Program tersebut juntrungannya gagal karena pemerintah justru menambahkan impor berasnya, dari 334.000 ton di taun 1950 menjadi 800.000 ton di tahun 1959.

Babak baru pembangunan pertanian baru dimulai lagi pada kurun waktu 1959-1961. Melalui program Tiga Tahun Produksi Padi dengan target mencapai swasembada pangan di akhir tahun 1961. Soekarno sendiri yang membentuk dan mengetuai langsung Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE) untuk mencapai keperluan tadi. Untuk memperbaiki sarana pertanian dibentuk Komando Operasi Gerakan Makmur (KOGM) yang beroperasi di tingkat pusat sampai ke tingkat desa. Di tahun 1959 juga dibentuk Badan Perusahaan Bahan Makanan dan Pembuka Tanah (BPMT) yang bertugas meningkatkan penyediaan sarana produksi pertanian. Badan usaha ini memiliki dua anak perusahaan, yaitu Padi Sentra dan Mekatani. Padi Sentra bertugas mengadakan, menyalurkan, dan menyediakan sarana produksi, seperti bibit unggul, pupuk, dan obat-obatan. Sementara Mekatani bertugas membuka lahan baru secara mekanis, terutama di wilyah luar pulau jawa.

Pada saat yang sama, penyuluhan pertanian digalakkan dengan dukungan Dinas Pertanian Rakyat dan melibatkan perguruan tinggi. Dari sini dibentuklah kelompok-kelompok yang anggotanya adalah para petani penggarap sawah sehamparan yang tergabung dalam organisasi pelaksana Swasembada Beras (OPSSB). Kelompok ini pulalah yang nantinya mejadi pelaksana Panca Usaha Tani. Sistem Padi Sentra juga mengalami kelemahan sebagai tonggak awal sistem modern bercocok tanam padi sawah. Padi sentra justru dianggap gagal karena hanya yang diuntungkan hanya pemilik tanah terutama penguasa lahan yang luas.

Di sisi lain, pergulatan kemunculan organisasi pemerintah yang mengurusi pertanian tidak pernah berhenti dan semakin merebak. Bahkan dibentuk sebuah panitia khusus yang menghasilkan rumusan Undang-undang (UU) No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Pada saat yang sama, lahir UU No.56/1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, dan UU No.2/1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBH). UUPA menjadi senjata yang paling kuat untuk meningkatkan kesejahteraan para petani waktu itu karena didasarkan pada perwujudan amanat pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Namun belum lama perjalanan UUPA (1961-1962) muncul gangguan dari “aksi sepihak” PKI dan pergantian kepemimpinan menjadi orde baru. Pemerintah yang secara nyata memiliki kebijakan yang bertentangan dengan pemerintahan lama yang akhirnya pada tahun 1978 UUPA masuk peti es. Akhirnya peraturan-peraturan yang dibuat selanjutnya menjadi tumpang tindih dengan UUPA dan salaing berlawanan.

Belum lagi ditambah gempuran demam revolusi hijau di seluruh dunia. Saat itu sangat mempengaruhi kebijakan pemerintahan dan akhirnya orde baru mengambil jalan pragmatis. Melakukan Revolusi hijau tanpa reformasi agraria untuk mencapai swasembada pangan. Strategi pembangunan semcam ini berlandaskan pada kaidah pokok : mengandalakan bantuan asing, hutang, dan investasi dari luar negeri. Sebagai akibatnya, penguasaan agraria makin berbiak dimana-mana, di semua sektor, di tiap wilayah, dan melibatkan lebih banyak lapisan masyarakat.

Sedikit gambaran untuk Revolusi hijau, sistem katalis pertanian ini telah membawa perubahan mendasar bagi perilaku petani dalam berhubungan dengan petani lain, alam, teknologi, pemerintah, serta hubungannya dengan perusahaan-perusahaan besar, baik lokal maupun luar negeri. Memang jika ingin merunut hasilnya cukup dahsyat. Jika pada 1965 tingkat produksi beras Cuma 1,7 ton per hektar, pada 1980 sudah mencapai 3,3 ton per hektar, dan Indonesia bisa berswasembada beras pada 1984. Sayangnya, hanya mampu bertahan 5 tahun. Setelah tahun 1990, impor beras Indonesia terus melonjak dan tidak pernah turun lagi hingga saat ini. Ironis, karena kemajuan pertanian di Indonesia tidak diikuti oleh kesejahteraan petani, dan justru alah memaksa dan menakut-nakuti petani dengan desakan ekonomi.

Jika kita bisa berbicara tentang bagaimana petani, produk keanekaragaman hayati lokal, upah kerja, sewa lahan, pupuk kimiawi, dsb. Semua itu hanya perilaku dan gerakan pasar perusahaan-perusahaan asing besar yang berbalut kapitalisme modal. Dalam prinsip ini, petani hanya dijadikan komoditas yang dapat dikuras hingga kering-kerontang tanpa mengicipi sedikit pun kemakmuran.

Hal tersebut justru menjadi sangat krusial saat pemerintahan orde baru justru mengundang kembali IMF. Melalui Letter of Intent (LoI) dibuatlah kewenangan pemerintah menjadi mandul karena pelbagai kebijakan ekonomi, terutama pertanian, berada dibwah dikte IMF. Apalagi ditambah dengan kesepakatan dunia internasional dengan WTO dengan ditandatanganinya General Agreement on Trade and Tariff (GATT). Selain itu berlakunya Trade Related Intellectual Property Rights, yang kesemua peraturan/perjanjian tersebut akan menjepit nasib para petani. Tulis Loekman Soetrisno, “liberalisasi perdagangan internasional akan memaksa para petani di negara yang sedang berkembang untuk bersaing dengan petani dari negara industri yang memiliki sistem pertaniann yang lebih efisien.” Jadi, warisan kolonial dan orde baru kini semakin diperparah oleh mekanisme baru : Neoliberalisme.

Begitula sekelumit kecil bagaiman perjalanan pertanian di negeri kita. Jika setelah membaca tulisan ini akhirnya hanya menjadi pesimis tetap dipersilahkan. Namun perlu dicamkan dan diingat betul bahwa tuhan pasti tidak akan menciptakan setiap masalah-masalah manusia tanpa ada jalan keluarnya. Toh, sebesar apapun sistem Neoliberalisme, hanyalah ciptaan manusia. Bukan pula keajaiban apalagi mukzijat yang datang dari tuhan. [Ringkasan dari Pelbagai Sumber]

PETANI MELAWAN

PETANI MELAWAN

PETANI MELAWAN

Diamku bukan karena tak tahu

Tapi menyimpan kekuatan.

Kalemku bukan karena aku nrimo

Tapi bersabar.

Sabarku berarti perlawanan

Menunggu saat satu

Meruntuhkanmu.

SBY 2009?

SBY 2009?

SBY 2009?

Kartun ini menjadi sebuah ironi untuk pemerintahan yang selalu bermain-main dengan harga bahan bakar minyak (BBM).

Bagaimana tidak, perubahan akan banyak terjadi ketika harga BBM dinaikkan atau diturunkan.

Lihat saja, berapa banyak orang yang putus harapan ketika harga BBM dinaikkan untuk kedua kalinya. Kebijakan itu menjadikan rakyat sebagai tumbal, dijadikan korban. Pun, ketika BBM diturunkan, pemerintah justru asyik bermain dengan kampanye yang menjadikan harga BBM turun sebagai isi kampanyenya. sungguh tidak dewasa dan tidak mendidik.

Disaat harga dinaikkan kemudian rakyat menuntut, melakukan unjuk rasa, mereka (pemerintah) berpaling muka (tidak mau tahu). Namun, saat harga BBM diturunkan, oknum-oknum pemerintahan berebut peran dan popularitas kemudian mereka bilang “kan ini karena usaha saya selama ini”. kekanak-kanakan[]

CANGKUL

Kuayun

Kupancang.


Berbuih peluh

Mengusap dada

Tertuai asa

Selimutkan tegar.


Berbulir beras

Harap kudapat

Terbuai mimpi

Makmur dan adil.


Cekatkan kerja

Keraskan tekad

Wujudkan Janji

Atau Kucangkul.

PESAN DALAM BOTOL

PESAN DALAM BOTOL

Sebuah ilustrasi yang mencoba berkata sekaligus mempertanyakan peran seorang intelektual. Bukan saja mahasiswa sebagai agent of change, pun para politisi, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, dan sejenisnya.

Disaat masih banyaknya masyarakat dari kalangan bawah seperti petani, pedagang kecil, pengangguran, anak jalanan, pengemis, dan sebagainya masih mengalami ketidakadilan dan ketidaksejahteraan.

Mereka-mereka yang mengaku pintar dan memiliki intelektualitas tinggi justru hanya terjebak dalam simbol dan slogan. Juntrungannya malah menjadi kebingungan baru dikalangan masyarakat kelas ini.

Dalam setiap aksinya justru mereka seringkali mengatasnamakan rakyat. Dalam hal ini akhirnya rakyat hanya jadi berhala untuk kepentingan mereka. Ya, berhala yang tak bisa berbuat apa-apa karena tak ada nyawa dan kekuatan.

Bahkan kerap kali sering menyimpangsiurkan informasi dan menyalahgunakan kewenangannya.

Takkan terbantahkan pula, seringkali justru berakhir pada kericuhan. Rakyat menjadi obyek adu domba dari kepentingan satu golongan.

Mereka terjebak dalam Simbol.

Mereka terjebak dalam slogan.

Tanpa bukti.

Hanya sebuah PESAN DALAM BOTOL

Ilmu dan Teknologi Sebagai ‘Tuan’ Bagi Pertanian

(Sebuah Telaah Kritis Atas Filosofis Pergeseran Esensi ‘Asli’ Ilmu Pengetahuan Dan Penerapan Teknologi Dalam Masyarakat Modern)

Bosan kiranya bicara tentang pertanian, muncul karena tak lebih dari membicarakan permasalahan-permasalahan yang tak habis. Pertanian tak bisa lepas dari isu kelaparan, kemiskinan, terpinggirkan, dll. Berbagai solusi telah banyak ditawarkan namun hanya berhenti pada tataran wacana. Semua orang dari berbagai kalangan angkat bicara menanggapi permasalahan seputar sistem produksi pakanan ini. Pun, terhenti pada bahan obrolan atau seminar lokakarya. Tak sedikit pula, akhirnya banyak yang lelah dan mulai melupakan pertanian sebagai asset pemenuhan kebutuhan primer manusia. Lembaga yang sudah berdiri bertahun-tahun juntrungannya malah semakin bias, juga peraturan-peraturan yang terkait pertanian malah menjadi rancu di beberapa pihak dan malah berpotensi memicu konflik. Perkembangan pengetahuan tentang pertanian sepertinya semakin sempit dan menjadi tidak seperti yang diharapkan. Astaga.

Untung saja tidak mencapai deadlock, masih banyak jalan untuk mencapai kesejahteraan menuju pertanian yang murni mapan. Tergantung bagaimana kita mencoba menelusuri permasalahan yang ada dan berani mengambil perspektif dan menyesuaikan konteks yang kiranya tepat untuk kemajuan pertanian. Minimalnya mampu menyegarkan kembali ingatan visi dan misi dari bidang pakan ini. Sekarang, perspektif “akademisi” kita coba ambil dengan bagaimana memandang pertanian secara holistik. Mulai dari perbincangan ini kiranya kita bisa memulai dengan mencari kontribusi pemikiran manusia akan munculnya ilmu pengetahuan, kemudian menelaah manusia dari sisi penjelajahan penciptaan ‘bentuk’ dari ilmu pengetahuan/pengalaman yang didapatkan (penciptaan teknologi). Terakhir, bagimana manusia mampu menerapkan fungsi dan kemampuan ‘bentuk’ tadi untuk kemaslhatan orang banyak (penerapan teknologi di pertanian).

Berkaitan dengan kebiasaan berpikir masyarakat, Yasraf A. Piliang menyebutkan sebagai “kebiasaan berpikir” tertentu yang tidak mendorong ke arah produktivitas pengetahuan. Ia menyebutkan terkadang ada kabut-kabut yang menyelimuti pikiran, sehingga yang dihasilkan adalah pikiran yang kabur dan hambar. Kita sebut saja, stakeholder yang paling dekat dengan pemikiran dan intelektualitas yang seharusnya pun berpengaruh banyak adalah dari kalangan akademisi. Mengkritisi cara berpikir dari sudut ini menjadi begitu penting agar ‘kabut pikiran’ tadi bisa ditembus menuju pemikiran yang terang sehingga pengetahuan dapat menunjukkan perannya.

Kabut yang diistilahkan Yasraf ini membuat macet buah pikir para ilmuwan tersebut. Terkadang yang dipikirkan banyak terserap pada obyek pengetahuan yang dihasilkan itu sendiri. Terkadang lupa menelusuri asal-usul serta mengkaji bagaimana ilmu yang dipakai itu diperoleh dan bagaimana ilmu yang telah diperoleh itu diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat. Maka, sekarang mari kita coba telusuri pengalaman-pengalaman yang telah lalu agar tersusun secara sistematis agar seperti yang dianalogikan oleh Prof. Tuti Herati sebagai “cermin untuk mengetahui kebenaran”.

Karena beberapa teori itulah, dan mungkin dapat dilihat dari kacamata filososfis– kehidupan saat ini, kemudian muncul pikiran bahwa ternyata ilmu pengetahuan tidak lagi berasal dari struktur sistematis pengalaman-pengalaman yang ada, dalam pemecahan masalah atau pencarian solusi. Melainkan, karena memang telah ada sistem yang mengatur dan memang kebanyakan tidak disadari. Awalnya, manusia yang sekiranya menjadi subjek dalam ‘pencarian’ abstraksi pengetahuan. Malah menjadi objek sistematik yang konvensional dan statis dari doktrin ‘ilmu pengetahuan’ yang pernah ada sebelumnya.

Hal ini menjadi gejala ketidak-manusiawian, dapat dilihat seperti ini. Ketika suatu ‘masalah’ muncul pada satu subjek manusia, pencarian struktur keberadaan masalah, melakukan langkah memetakan masalah. Maka, akan muncul secara alamiah untuk mencari solusi/ jalan keluar. Disini yang menjadi penting adalah proses pengalaman-pengalaman dalam pencarian jalan keluar tersebut untuk pemecahan masalah. Ada hal yang sangat bersifat ‘abstrak’ dari dunia ini yang dengan berproseslah kemudian manusia dapat membentuk pengalaman yang diperolehnya secara terstruktur. Kemudian dari proses ini barulah muncul bangunan-bangunan ‘ilmu’ yang secara sistematis tersusun dalam bentuk ‘pengetahuan’.

Ironisnya, logika sederhana seperti tadi banyak berubah saat ini. Tak dapat disangkal, secara sadar atau tidak sadar, kalangan akademisi kita telah terdoktrinasi oleh sistem —mendidik dan terdidik— yang salah. Dapat dianalogikan secara sederhana seperti ini; seorang mahasiswa mendapatkan soal A, menyelesaikan permasalahan soal tadi dengan solusi A pula. Dari sini dapat dijelaskan bahwa, masalah yang ada sudah tersistematis sebagai sebuah bentuk dari ilmu pengetahuan yang tentunya telah tersusun tekstual, kemudian diselesaikan –yang sebenarnya – dengan cara yang telah tersistematis pula. Terlihat janggal, karena tidak ada hal yang baru ataupun berkembang dari ilmu pengetahuan yang didapat. Soal yang dihadapi sebenarnya sudah tersedia jawaban juga dihadapannya masing-masing. Terlihat ada sesuatu yang hilang dalam pengalaman ini, yaitu –proses pencarian— pengetahuan. Bandingkan dengan proses ilmiah Newton ketika menemukan apel jatuh ke permukaan bumi. Ada proses manusiawi alam pikiran yang secara abstrak menangkap gejala alam tersebut. Kemudian Newton mulai melakukan pencarian dari masalah yang dia alami (sebuah pengalaman), dan dari situ secara sadar mulai tersusun pencarian bentuk baru dari struktur penjelajahannya pikran Newton akan pengalamannya. Dan pada akhirnya dapat tersusun sesuatu yang tadinya bersifat pengalaman abstrak alami menjadi ilmu pengetahuan tersistematis yang baru : prinsip gravitasi bumi.

Dapat disimpulkan seperti ini, –sampel mahasiswa: Masalah A (teks) – Solusi A (teks) = 0 (statis), disini tidak ditemukan ada yang baru dan berkembang pada bentuk ilmu pengetahuan. Beda hal dengan sampel Newton: Masalah A (lingkungan) – (solusi B(pengalaman) + solusi C(teks)) = A-B+C (dinamis). Di sampel ini dapat ditemukan sesuatu yang baru dan perbedaan dari bentuk real ilmu pengetahuan. Tumpulnya identitas akademisi mulai menyeruak karena hilangnya sebuah proses pencarian. Seakan hal yang seharusnya bisa ditemukan – karena kehilangan unsur tadi menjadi begitu baku dan telah terpatri. Kondisi ini diperparah dengan dunia pendidikan kita saat ini. Tak pernah diajarkan bagaimana proses sebenarnya membaca gejala-gejala lingkungan, terlalu terkotak-kotak dan sempit dari dunia yang begitu holistik. Semua serba tersistem dan muncul karena telah ada dan tetap menjadi ada, bukan karena awal yang ketiadaan menjadi ada. Semakin parah lagi, ketika sistem pendidikan ini berjalan, pun ketika sisi manusiawi kita muncul dalam proses pencarian solusi dan itu sisi itu dianggap salah dan dosa oleh sistem yang membuatnya. Dalam penyelesaian masalah, tentunya orang secara manusiawi akan mencari solusi yang paling mudah. Contohnya seperti ini, mahasiswa, diberikan permasalahan soal. Secara sadar pula mahasiswa sebagai manusia biasa akan mencari cara yang paling mudah dalam menyelesaikan soalnya, misalkan mencontek. Itu muncul secara sadar dan alami, karena dianggap cara yang paling mudah. (karena itu pula mencontek tak dapat dihilangkan, karena ini cara paling mudah bagi siswa untuk menyelesaikan secara alamiah dan manusiawi persoalan yang diberikan) Cara manusiawi yang muncul ini dianggap dosa. Sebuah ironi memang, dan ternyata itu cara-cara ‘manusiawi namun berdosa’ itulah yang diciptakan dalam sistem pendidikan kita selama ini. Pendidikan hanya mampu menghasilkan manusia yang ‘jalannya lurus’ namun telah terprogram seperti robot. Sedangkan, ketika sisi manusiawiahnya muncul, diadili sebagai sebuah kesalahan dan berdosa. Naudzubillah.

Sampai disini, kita berbicara persoalan kedua. ‘Bentuk’ abadi dari retasan pengalaman menjadi ilmu pengetahuan. Teknologi disini diambil sebagai sampel dari bentuk–nya. Berbicara tentang telaah filosofis teknologi kita tak bisa lepas dari perkembangan sejarah mengapa manusia mulai membutuhkan ‘tangan tuhan’ untuk mempermudah segala urusan. Jalan peradaban manusia secara sederhana dapat dibilang seusia dengan riwayat pertanian. Maka dari itu, ini nantinya akan dapat ditemukan hubungan dari analogi perkembangan sejarahnya.

Dimulai dengan praktik berburu dan kehidupan nomaden, mengandalakan kemampuan otaknya, manusia menemukan “teknologi” cocok tanam dalam bentuk yang sederhana. Penerapan teknologi ini terus berkembang hingga sekarang bahkan mampu menjadi ‘senjata’ bagi negara untuk melakukan ‘intervensi terhadap negara lainnya. Kita akan memulai bagaimana kemudian teknologi ini berubah sedemikian rupa sehingga mampu menjadi tuhan baru bagi manusia.

Mengutip Bryan Appleyard, bahwa modernisme bisa dipandang sebagai upaya merekonstruksi dunia tanpa melibatkan Tuhan. Dan berbicara tentang perkembangan modernisme kita akan takkan lepas dari perbincangan perkembangan teknologi. Manusia mempunyai kemampuan masing-masing dalam menjalankan kehidupannya. Usaha-usaha dari masyarakat ini mucul berbagai tipe, ada yang rajin dan ada yang malas, ada yang kuat dan ada yang lemah, maka dengan sendirinya terbentuk pembagian kerja, lain orang lain tugasnya. Karl Marx meyebut hubunga terpilah-pilah ini sebagai “hubungan produksi”. Pada perkembangannya hal inilah yang merekonstruksi pola pikir manusia atas karya dari buah pikirnya. Bahwa karyanya selama ini hanya digunakan sebagai komoditas produksi semata, tidak lagi untuk dinikmati estetika dari penciptaannya dan dengan niatan dapat digunakan secara bersama-sama. Misalnya seperti ini, saya adalah seorang pembuat cangkul untuk mengolah sawah dan anda adalah pembuat arit untuk memanen padi. Dalam masyrakat primitif, pada awalnya, alat yang saya dan anda buat tersebut dapat dimiliki oleh semua anggota masyarakat di desa dan setiap orang masih berhak menggunakannya ketika memerlukan.

Dalam contoh masyarakat primitif ini teknologi masih mampu menyentuh esensi kemanusiaannya dari yang menciptakan. Masyarakat dalam keprimitifan ini masih bisa menikmati hidup mereka dengan melakukan pekerjaan yang diinginkan dan butuhkan serta bisa berhenti disaat mereka lelah atau tidak merasa butuh lagi. Karena hasil karya yang diciptakan ini merupakan sebuah objek yang terpisah, sesuatu yang lain dari ekspresi alamikepribadian manusia agar bisa berperan dalam komunitasnya. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, perubahan drastis terjadi ketika manusia mulai mengenal bentuk-bentuk faktor produksi, ketika pengertian privatisasi (hak milik pribadi) mulai dikenal oleh masyarakat. Hubungan masyarakat yang terjadi pun telah begitu berubah. Pada mulanya teknologi muncul untuk mempermudah kehidupan pribadi dan dapat berperan dalam membantu komunitasnya, menjadi sekat-sekat ribadi dan menciptakan struktur masyarakat yang tidak lagi sejajar, namun vertikal.

Si pembuat arit mengklaim arit yang dibuatnya adalah hak miliknya, begitu juga dengan pembuat cangkul, yang mengklaim hal serupa. Hubungan keduanya hanya akan terwujud ketika melakukan barter hasil pekerjaan mereka, atau dengan menjual barang yang mereka hasilkan atau dengan membeli barang yang dibutuhkan. Pergeseran peran teknologi dapat terlihat jelas disini, manusia tidak lagi mampu menyentuh esensi kemanusiaannya dan terjebak dalam faktor-faktor produksi dan ‘pasar’, bukan lagi pada unsur-unsur produksinya untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya, mulai merebaklah struktur masyarakat yang terpilah-pilah menjadi, yang mana berkuasa dan dikuasai, yang mana atas dan dibawah. Karena pada dasarnya, sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan akan menguasai hak milik yang lebih banyak sedangkan yang lain tetap tidak memiliki apa-apa. Pada saat ini terjadilah, perkembangan teknologi mulai kehilangan esensinya bagi kemanusiaan bahkan mampu menjadi tuhan bagi manusia itu sendiri. Pada akhirnya, ide-ide kreatif dalam proses produksi tidak lagi berguna dan terkungkung dalam putaran sistem pasar yang hanya berkutat pada masalah bagaimana ‘mampu memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya’, bukan lagi –ide kreatif tersebut muncul – karena sebuah orientasi bagaimana ‘mampu berguna bagi setiap manusia lainnya’.

David Ogilvy (1911-1999), bilang seperti ini; di dunia bisnis modern saat ini, tak ada gunanya menjadi pemikir kreatif orisinal kecuali kamu bisa menjual kreasimu. Manajemen tidak bisa diharapkan mangakui gagasan bagus, kecuali ia dipresentasikan kepada mereka oleh seorang jagoan pemasaran. Inilah saat-saat dimana ketika hasil karya dari bentuk ilmu pengetahuan mulai kehilangan esensinya. Yang dihargai bukan lagi penciptaannya, melainkan bagaimana menjual hasil karya ciptanya, tanpa pandang peduli karya tersebut akan berguna bagi masyarakat atau acuh akan kebebasan berpikir manusia, yang disaat mereka tidak lagi membutuhkan dapat berhenti, dan mulai berkarya lagi karena ada kebutuhan baru lagi. Teknologi sebagai ‘bentukan nyata dari ilmu pengetahuan’ telah menjadi tuhan baru dan hampir setiap manusia mengabdikannya, dan mulai menyingkirkan esensi kemanusiaan primifnya.

Setelah berbicara dan paham tentang pergeseran dari esensi mengapa ilmu pengetahuan itu bisa terbentuk dan mengalami ke-ada-annya, juga mengerti tentang sisi kemanusiaan dari masyarakat yang secara naluriah , menciptakan teknologi untuk memenuhi kebutuhannya dan berguna bagi komunitas masyarakatnya. Kiranya, ketika dua hal tadi –ilmu pengetahuan dan teknologi—tidak lagi tercerabut dari esensi lahiriahnya maka akan tercipta keseimbangan dalam penyusunan struktur masyarakat dan tidak menafikkan naluriah—alamiah manusia dalam pencarian ‘tuhan yang sebenarnya’ melalui kejadian-kejadian alam.

Sehingga masalah-masalah pertanian yang ditawarkan pada bagian awal tulisan ini, dapat diramu obat penawarnya dengan menciptakan ilmu pengetahuan baru yang meretas kejadian-kejadian alamiah, dengan menjadikan penerapan teknologi sebagai esensi dari peran keberadaan tuhan dan keberlanjutan dari proses keseimbangan alam, dan peran naluri manusiawi masyarakat masih berada pada tataran pemenuhan kebutuhan dan pembagiaan ikhlas untuk komunitas lainnya. Sehingga terciptalah penerapan teknologi yang mendukung perkembangan struktur masyarakat kita di usia peradaban yang sudah lebih modern. Kiranya dari telaah ini para akademisi yang berkutat pada pengembangan ilmu pengetahuan bisa meninjau kembali peran dari profesi mereka sehingga mampu menciptakan teknologi pertanian yang berkeadilan masyarakat bagi masyarakat petani dan tidak menafikkan peran tuhan melalui peristiwa alam dengan menjaga keseimbangannya.[]

LAMUNAN PANTAI

Ombak pagi ini menggebu kencang menabrak karang. Desir angin seolah tak mau kalah menerpa hingga ke tengah pesisir pantai. Padahal ini pagi hari, angin berhembus begitu hebat nan semangat hingga menerbangkan jemuran tetanggaku, menggoyangkan tiap helai daun pohon kelapa yang batangnya juga telah ikut condong, dan membuat rambutku yang kribo ini semakin semrawutan. Itulah angin di desaku, desa bernama Bugel, tempat aku disemburatkan dari rahim ibu ke dunia pantai ini. Hidupku sedikit banyak dipengaruhi oleh keberadaan pantai ini. Termasuk pasir, air laut, dan angin pantainya yang tak henti berhembus siang malam. Rasa malu aku dihadapkan dengan sifat angin ini. Ia mampu menerjang semua yang menghalanginya, menerbangkan semua yang tak diinginkannya, begitu bersemangat.

Aduh. Sial. Buih air laut itu terlilip di mataku. Ah, angin ini, ada-ada saja. Padahal aku sedang asik melamun tentang nasibku. “Hei angin, apa maumu!?,” tantangku. Sepertinya angin sengaja meniupkan buih itu. Entah mengapa. Mungkin untuk menyadarkanku.

Lamunanku hancur sudah. Menjadi teringat aku kejadian dua hari lalu. Saat hari dimana aku menerima upah kerja menjadi tukang kebun di salah satu perusahaan perkebunan milik negara. Senang hati aku menunggu hari itu tiba. Pagi hari tak seperti biasanya aku mandi. Ya, karena biasanya hanya sempat gosok gigi, dan harus tiba di kebun tepat waktu jika tak ingin mendengar mandor berkicau-kicau marah. Bangun awal, kemudian mandi, kupakai baju istimewaku, kupakaikan kayu putih bekas kerokan semalam agar wangi. Maklum, ini salah satu caraku agar bos kebun tidak terlalu jijik bertemu kami saat memberikan gaji.

Sesampai di kantor. “Apa ini? Mengapa aku diminta menandatangi dua buah surat. Biasanya hanya satu surat yaitu surat kuitansi penerimaan gaji.” Tanpa sempat kulihat surat kedua, kulihat dulu angka yang tertera di surat pertama, surat penerimaan gaji. Mataku seolah tak kuasa menahan ingin segera melihat jumlahnya. Maklum saja, aku selalu grogi tiap bulan terima gaji. Kemudian leherku menjadi kaku dan menoleh jadi lamban. Jadilah aku bergerak seperti diberi efek slow motion melihat angka satu-persatu dari kiri ke kanan. Ah, angka 7 pertama terlihat. Oke, selanjutnya, oh, angka 3 disusul angka 5 yang mulai terlihat jelas. Selanjutnya, angka 0, 0, dan 0. “Alhamdulillah, gajiku bulan ini 735.000 rupiah!,” tanpa sadar aku berteriak hingga bosku hampir terjengkang dikursi jatinya. Wah, ingin sekali rasa aku memeluk bosku itu. Maklum, gajiku naik setengah kali lipat dari bulan lalu. Ini sudah begitu banyak bagiku dan tanpa curiga ingin menghitung uangnya, amplop uang itu langsung aku lemparkan ke saku dalam-dalam.

Oh, cukup. Giliran surat kedua sekarang aku tengok. Ini tak biasa, sudah dua tahun aku menjadi pekerja disini baru sekarang diberi dua helai surat. Segan aku ingin bertanya kepada bos perihal apa ini. Segera saja aku lihat suratnya. Ah, kenapa ini, otakku terus berputar menerka-terka isinya. Jangan-jangan bonus upah, mungkin tunjangan kesehatan, atau tunjangan hari raya, ah tidak, masih lama itu hari raya.

Menoleh kepalaku perlahan sambil mata melirik tajam ke tulisan demi tulisan di surat itu. Sekali lagi aku merasakan gerakan slow motion, selalu begitu. Kata pertama tercantum “terima kasih,” lalu… “atas kerjasama saudara di perusahaan ini.” Kemudian, apalagi kata selanjutnya, tambah dalam aku menoleh, “maka dengan ditandatanganinya surat ini,” yah, benar, aku sudah membubuhkan tanda tangan. “anda dinyatakan telah menyelesaikan kontrak dengan baik dan dinyatakan diberhentikan dari perusahaan ini.” Kemudian hening sejenak, begitu juga dengan bos yang sedang asik dengan cerutunya. “A.a..a..aku di…,” suasana kembali senyap, kali ini bosku memilih meletakkan cerutunya di asbak bersiap menerima kejutan ekspresiku kali ini.

Sesaat kemudian, kantor ini terasa berguncang, dalam pandanganku buku-buku berjatuhan dari raknya, gelas minum bos jatuh dan menumpahkan kopi pahitnya, kaca jendela pecah berantakan, semua jumpalitan, kapal pecah, kapal tenggelam, kapal karam, semua jadi satu. Terguncang aku merasa, dari kepala sampai ujung jempolku, semua bergetar. Ternyata memang bukan gempa, badanku saja yang gemetar hebat entah berapa skala richter. “Aku dipecaaaaaaaaaat!!!, Naudzubillah!,” aku berteriak sambil terus gemetaran. Tiba-tiba keheningan pecah berantakan, terdengar suara sedikit aneh. Gdubrak!. Kali ini bosku terjengkang benar. Jadi saja semua isi kantor ini benar-benar berantakan laiknya terkena gempa karena bosku yang tambun dan buncit itu membuat lantai kantor sungguh gemetaran. Terbalik di bawah kursi singgasananya sendiri. Aku berada di posisi tanpa pilihan kecuali…, kemudian larilah aku.

Aduh. Ah, angin ini giliran meniupkan debu pasir ke mataku. Sadar aku dari lamunan. Sejenak aku tersenyum-senyum sendiri teringat kejadian itu. Namun sekarang aku duduk disini, di kampung halaman dan resmilah aku menjadi pengangguran yang nyaris menembus garis kemiskinan. Sudah hampir tiga jam aku menduduki batu karang ini. Sepertinya batu ini terdampar karena terhempas ombak, yang beberapa bulan lalu sempat menjulang hingga dua meter tingginya. Ya, ini pantai hanya pantai. Kehidupan pantai ini sepertinya hanya ditunjukkan dengan suara alam berupa hembus angin, debur ombak, kmeresek daun pohon kelapa. Tanpa terkecuali, lamunanku di atas karang ini menambah sedikit rasa hidup pada pantai ini. Aku hanya mampu mengilustrasikan suasana pantai sependek itu. Padahal begitu luas pesisir ini, melebar hingga ke jalan utama, memberikan lahan bagi rumah desa kami, bahkan menyediakan lapangan untuk pemuda desa bermain sepakbola.

“Ssssuuuut, suiiiittt, suuuuut.” Aku bersiul ingin tambah menikmati suasana alam pantai ini. Kucoba mengikuti nada lagu sebuah band populer yang sering kudengar di radio bututku. Penyiarnya sering menyebut kangen, entah judul lagu atau nama bandnya, aku masih rancu. Mataku terpejam kali ini, tiba-tiba aku mendengar suara band ini menjadi nyata. Ia bernyanyi di hadapanku dan, Ah, mengapa menjadi ramai begini. Semua orang bersorak-sorai sambil memegang gelas berisikan minuman dingin bersoda. Sebagian lagi terlihat sedang asyik mengobrol di sofa empuk berkulitkan beludru yang empuk. Sesekali mereka tertawa kecil kemudian terbahak. Ouch, banyak juga wanita berpakaian seksi. Mereka dengan percaya diri memperlihatkan paha putihnya hingga kebagian teratas yang untungnya tertutupi sedikit oleh rok mini. Bagian perut ke atas, ah, perutnya saja tak tertutup hanya diatasnya ada 2 buah “jeruk” yang sengaja ditonjolkan dengan balutan kaus ketat yang disangga dua tali saja. Aku serasa ingin bergabung dengan mereka yang sedang asik berdansa dalam balutan musik. Musiknya sendiri aku tak mengerti, bunyinya hanya jeduk, jeduk, jeduk. Ah, aku ikut saja di lantai dansa itu, asal jingkrak, asal pinggul berputar. Tiba-tiba gadis-gadis seksi itu mengelilingi aku dan mulai menggeliat-geliat dan seringkali bersentuhan tubuhnya dengan tubuhku yang sudah mulai berkeringat. Wauw, aku larut dalam pesta ini, gadis-gadis dan minuman bersoda itu membuat aku semakin terbakar. Benar-benar pengalaman hebat.

“Aduh, pedas sekali!,” kali ini angin pantai itu menghempaskan sebongkah pasir hingga mengguyur mukaku. Kencang kali ini kecepatan angin itu seolah benar-benar ingin mengingatkanku. Hancur lagi lamunanku yang sedang klimaks-klimaksnya. “Angin sial, sudah aku jatuh karena jadi pengangguran. Ingin kau timpa tangga juga dengan debumu?,” gerutuanku mengajak bicara angin sial itu. “Ah, dasar angin pantai sialan,” umpatku lagi.

Kapok aku ingin melamun lagi. Sekilas aku pandangi sekeliling pantai. Kuperhatikan tiap detail keindahannya hingga kepalaku terus berputar-putar. Sebelah kanan ku melihat beberapa nelayan sedang menyiapkan beberapa peralatan berlayar untuk cari ikan nanti malam. Sebelah kiri, hanya ada pohon-pohon kelapa yang tertiup angin. Pohon kelapa ini bergoyang-goyang ke kanan, ke kiri, lalu ke kanan lagi, seolah bergoyang mengikuti musik dangdut yang terdengar sayup dari rumah nelayan di kejauhan.

Di depan mataku yang paling luar biasa. Air garam itu tak mampu tenang, tak sejenak pun tenang. Selalu bergejolak, berputar-putar melempar buih demi buih air, berguling-guling sesuka hati seperti anak kecil yang riang bermain air. Riaknya membentuk lukisan-lukisan abstrak dari koas lukis dan warna tinta ilahi yang tak kasat mata. Ombak yang indah, sangat indah, mendamaikan gejolak hati sang pengangguran ini.

Aku teringat kalau belum sempat memandang apa yang ada di belakangku. Menoleh kepalaku memutar hampir 180 derajat. “Cantik sekali dari kejauhan desaku ini,” kagum aku melihat desaku sendiri setelah lama merantau tak pulang rumah. Aku terpaksa memutar badan, sekarang seluruh tubuh berhadap-hadapan dengan pemandangan desaku.

Eits, tunggu dulu. Tak ingin aku melamun lagi. Aku takut akan angin tadi, angin pantai yang kadang baik, kadang jahat.” Berputar kepalaku setengah derajat memantau sekeliling. “Aha, apa itu. Ada tumbuhan apa, sepertinya telah berbuah. Selama tinggal disini aku tak tahu di pantai ada buah lain selain kelapa,” pikirku. Dari kejauhan berwarna kemerah-merahan buahnya, tidak hanya satu-dua. Ada pula beberapa pohon lagi dipojokan di bawah karang yang agak gelap tertutup bayang. Aku memilih untuk mendekati, mencari tahu tumbuhan apa tadi.

Sampai tepat didepan tumbuhan tadi, aku sedikit terhenyak. “Ini kan cabai, dan adalagi, tomat, bawang. Tak tahu aku tanaman ini bisa tumbuh di pasir.” Aku mengira ada yang tak sengaja membuang biji cabai, tomat, dan bawang itu disini. Tak ada memang dalam sejarah perkampungan kami yang tanahnya hanya pasir dan pasir, melihat sayuran itu tumbuh disini.

Aku menampar muka sendiri, ternyata sakit, memang bukan lamunan. Ini dunia nyata, sebuah dunia yang apa adanya. Ini baru harapan, ini cita-cita, ini jawaban dari kelanjutan hidupku. Bumi Indonesia memang selalu punya banyak harapan untuk rakyatnya, rakyat kecil seperti aku ini. Yah, bumi Indonesia, bukan orang-orang Indonesia. Aku putuskan menjadi petani sayuran saja, di tanah ini. Tanah tempat kelahiranku yang hanya pasir dan pasir, namun telah memberi harapan.[]

Mencari Makan yang Lebih Ndeso’

Tempe dan tahu, sangat lekat dengan selera masyarakat Indonesia. Selain karena harganya terjangkau kalangan menengah ke bawah, penuh gizi, pun dapat dimasak bermacam-macam. Dari digoreng, bakar, bacem, sayur, hingga sambel tempe. Begitulah cara jenis pangan itu menjadi dekat dengan rakyat, bahkan menjadi makanan wajib setiap hari. Tapi, bagaimana jika harga kedelai sebagai bahan baku menjadi begitu mahal. Makanan tempe dan tahu merupakan andalan rakyat kecil yang akhirnya menjadi makanan mewah dan tak terbeli. Ironis, laiknya menghilangkan selera makan seluruh rakyat Indonesia.

Banyak yang bilang tempe makanan deso (kampungan). Makanan bagi rakyat yang tak mampu membeli telur atau daging. Namun, begitulah keadaannya, tempe sudah menjadi makanan pelarian bagi masyarakat.

Begitu mengejutkan ketika tersiar berita harga kedelai naik hingga 100%. Padahal konsumsi bahan baku makanan deso ini di Indonesia mencapai 2 juta ton/tahun. Negara bahkan menyediakan devisa sebanyak 3 trilyun/tahun. Seiring melesatnya harga kedelai, harga tempe yang biasa dijual Rp.3000/papan kini menjadi Rp.6000/papan. Banyak produsen tempe yang akhirnya gulung tikar. Beberapa bertahan dengan mengurangi ukuran tempe bahkan ada yang mencampurnya dengan ampas ketela sebagai bahan baku. Sehingga kandungan gizinya menjadi berkurang, mudah busuk, dan tidak tahan lama.

Pemerintah tentu saja tidak tinggal diam. Ini menjadi semacam dosa yang harus ditebus karena target pemerintah tahun 2006 bisa swasembada kedelai gagal total. Bahkan kurun waktu tahun 2007 impor kedelai justru meningkat. Presiden SBY pun sepertinya sadar betul akan kondisi bangsanya. Sehingga diadakan rapat sidang kabinet yang dilaksanakan di departemen pertanian hanya untuk membahas maeman deso ini. Bea cukai untuk kedelai impor akhirnya dihapuskan, namun tetap tak berpengaruh banyak terhadap fluktuasi harganya.

Sedikit banyak, pemerintah sudah berusaha untuk menstabilkan harga kedelai. Namun, ancaman malnutrisi rakyat tetap menghantui. Bayangkan, kebutuhan gizi sebagian besar kalangan rakyat menengah kebawah khususnya protein nabati bisa terpenuhi hanya oleh tempe. Saat ini, makanan tersebut sudah menjadi langka nan mahal, bahkan oleh beberapa konsumen mengaku tempe sudah jarang di pasar-pasar tradisional.

Sekiranya sangat diperlukan adanya makanan pengganti sebelum bencana malnutrisi massal terjadi. Mengingat kebutuhan kedelai begitu tinggi dan ketersediaan yang terbatas. Ada banyak jenis potensi kearifan lokal yang dapat digali menjadi pangan alternatif. Misalnya jagung giling, tepung sagu, gadung, dan gaplek. Untuk jagung saja, kandungan proteinnya cukup besar (8,7 gram/100gram) sebagai pengganti gizi tempe. Dan dari sisi gizi dan nutrisi, jika semakin bervariasi konsumsinya, akan semakin baik.

Tentu saja, menawarkan pangan alternatif tersebut pada rakyat yang telah terpatri dengan rasa kedelai, tak semudah membalik telapak tangan. Para ahli pangan sekiranya dapat memikirkan sajian pangan lokal yang dapat diterima oleh semua kalangan. Masyarakat sendiri tentunya harus mulai sadar akan pemenuhan gizi dari makanan alternatif misalnya gaplek. Kita tak lagi harus berharap harga kedelai kembali normal, karena takkan terpenuhi sebelum pertanian Indonesia sendiri mampu membuktikan cita-cita swasembada kedelainya. Penyebab naiknya harga kedelai dunia sendiri karena adanya pengalihan fungsi lahan di negara pemasok sehingga produksi berkurang dan harga minyak bumi pun telah membumbung tinggi.

Tugas pemerintah, tentu saja harus segera mengambil keputusan tepat dan langkah cepat. Dengan menjaga agar makanan alternatif lokal lain tetap stabil produksi dan harganya. Karena sebenarnya potensi yang sangat besar untuk pemenuhan asupan gizi masyarakat sebelum terjadi kembali musibah kelaparan di negeri ini. Ketersediaan bahan baku pakan alternatif sangat menunjang bahkan berlebih produksinya. Beberapa penelitian dan penerapan teknologi harus dilaksanakan untuk membangun potensi ini. Namun, yang paling sulit dilakukan memang adalah merubah selera dan gengsi konsumsi masyarakat agar mau beralih dari makanan deso (tahu dan tempe) ke makanan yang lebih kampungan lagi.

GAGAL PANEN

“Bu, aku pulang,” sahut Sukris kepada sang istri. Ia baru datang dari sawah yang berluaskan tak lebih dari 1 hektar. Sukris kali ini begitu serius menangani sawah itu agar tak gagal panen lagi. Tahun sebelumnya ia hanya mampu menghasilkan 15 persen saja dan itupun terpaksa ia panen. Itu terjadi karena musim lalu hujan mengguyur begitu deras. Setiap hari air mengalir memenuhi persawahan di desanya kemudian menjelma jadi banjir. Sawahnya tenggelam, Ya, panen gagal. Tapi Sukris bertekad berhasil untuk kali ini.

Belum sempat menikmati teh hangat buatan istrinya. Ia bergegas menaruh cangkul, meletakkan disebelah tungku yang masih hangat bekas merebus air. Sukris ganti mengambil handuk kemudian melangkah ke kamar mandi tak jauh dari dapur. Istrinya menunggu di meja makan sambil menyiapkan piring lengkap dengan nasi, tempe goreng, dan sambal terasi. Memang hanya itu, tapi makanan paling favorit bagi Sukris. Beruntunglah ia tak pernah mengenal burger, fried chicken, steak, apalagi? Baginya semua makanan itu haram, karena tak terbeli.

Dada Sukris perlahan tampak diantara keremangan dapur. Masih sambil mengusap rambut yang basah, ia menyeruput teh hangat. “Mari Pak, makan dulu, anak-anak juga sudah menunggu,” ajak istrinya. Kemudian kedua anak Sukris, sepasang putra-putri datang menghampiri.

Sukris menyantap lahap hidangan dari istrinya. Tak seperti biasa, ia kali ini terlihat begitu menikmati suap demi suap makanan ke dalam mulut. Tatapannya terus tertuju pada makanan itu. Tak lain, tak sejenak pun ia memandang anak atau istrinya.

Istrinya sendiri mengernyitkan kening pertanda heran. Ia hanya berpikir kemungkinan suaminya yang terlalu letih bekerja karena tak ingin gagal panen. Memang panen kali ini harus menghasilkan banyak sekali padi. Jika tidak, ah, tak tahu apa yang akan terjadi nanti. “Bu, tolong ambilkan aku minum lagi. Serat rasa tenggorokan ini.” Kemudian ibu meninggalkan mereka bertiga ke dapur.

Sukris mencoba bicara kepada anak putrinya, “sudah sampai mana persiapan nikahmu anakku?.” Rencana untuk menikahkan putrinya telah sejak lama Sukris persiapkan. Sudah sejak persiapan lahan tahun lalu, saat ia sedang membajak sawahnya menggunakan kerbau sewaan.

Waktu itu ia begitu yakin jika akan mendapat hasil panen yang melimpah. Karena intuisi itulah Sukris memberanikan diri untuk meminjam uang kepada rentenir. Uangnya lalu ia gunakan untuk membeli benih padi, pupuk, sewa kerbau, dan tetek bengek-nya. Sebagiannya lagi ia pergunakan untuk menikahkan putrinya yang sudah kelewat umur karena terus tertunda.

Tapi niat Sukris untuk melunasi hutangnya setelah panen raya telah musnah. Apa itu panen raya, tak ada panen tahun lalu. Sementara hutang Sukris sebesar 6 juta rupiah tambah berlipat-lipat jumlahnya karena menunda pembayaran. Itupun belum termasuk pembayaran bunga yang ditentukan tengkulak. Padahal ia pertaruhkan lahannya, yang biasa digunakan untuk menanam padi sebagai jaminan. Bermodalkan hutang sebanyak itu justru musibah datang menimpa hingga menyebabkan paceklik. Terpaksa, untuk kebutuhan sehari-hari ia menghutang kembali kepada bank. Uang itu ia pergunakan untuk menanam padi musim ini dan kebutuhan lain yang seharusnya tertutupi oleh panen tahun lalu. Hutang adalah hidup Sukris saat ini.

“Sudah pak, bulan depan bapak sudah bisa melihat saya menikah,” jawab putrinya melanjutkan perbincangan. Muka Sukris sekarang mulai menampakkan raut senyum. Dari tadi ia hanya membuat bulatan kecil dimulutnya membentuk cemberutan. Sukris merasa lega satu impiannya sudah jelas akan terkabul. Ya, menikahkan putrinya tentu. Tapi, hutang tinggal hutang ia harus segera melunasinya. Kembali teringat itu, ia pun balik cemberut dengan pandangan kosong menatap piring yang juga telah kosong. Sementara anak-anak sudah meninggalkannya masuk ke kamar berdinding sekat anyaman bambu.

“Ada apa pak? Ini teh angetnya. Diminum dulu pak,” sapa istrinya.

“Oh, terima kasih Bu. Aku merasa lega,” ujar Sukris.

“Lega?.”

“Iya Bu, Akhirnya putri kita akan menikah juga.”

“Syukurlah, jika begitu,”

“Lantas apa yang membuat bapak melamun?,” tanya istrinya heran.

Mendengar pertanyaan tulus istrinya itu Sukris menjadi berbinar, air mulai membasahi tipis selaput matanya. Kemudian ia mendekati hingga bertatapan dekat dengan istrinya. Memegang kedua pipinya kemudian mencium keningnya. Dengan pandangan tajam kedalam mata istrinya, tanpa sempat menjawab terlebih dahulu pertanyaan tadi. Matanya meneteskan air mata. Baru kali ini Sukris terlihat menangis di depan istrinya. Biasanya ia orang yang tabah, siap tempur, selalu kuat menghadapi apapun. Dilakukannya demi keluarga dan masa depan anak-anaknya.

Sukris sebenarnya sudah dibatas ambang putus asa. Rasa dimana tak ada lagi jalan, buntu dan hanya buntu. Kondisi Sukris sebenarnya tak jauh berbeda dengan keputusasaan petani lainnya. Bahkan Sukris bisa lebih baik, ia menolak untuk berjudi. Ya, berjudi adalah cara teman sesama petani di desa itu sebagai cara cepat mendapatkan uang. Ini semua dilakukan karena kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak dan keperluan modal menanam padi. Pendapatan akhirnya menjadi jauh lebih kecil dari jumlah hutang disana-sini. Ironis, mereka mempertaruhkan tanah dan hidupnya demi panen yang bagus.

Pikiran Sukris melayang entah kemana. Ia masih menatap tajam mata istri yang kaku sekujur tubuhnya. Tak ingin mengganggu suaminya yang entah sedang berpikir apa. Seolah Sukris sedang menyiapkan sepatah kata. Tapi kata apa, istrinya hanya menunggu.

Frustrasi, ya, frustasi mungkin kata yang lebih tepat untuk petani seperti Sukris. Apalagi ketika satu dasawarsa lalu, pemerintah mulai meliberalisasi perekonomian bangsa ini, hingga semakin memarjinalkan pertanian. Subsidi sudah dipangkas begitu saja. Kemudian biaya produksi petani jadi meningkat, sudah bukan barang rakyat. Bahkan tarif untuk melindungi produk mereka diturunkan. Pengusaha yang punya modal besarlah yang dilayani oleh pemerintah. Bukan, bukan Sukris atau teman-temannya.

Pemerintah sebenarnya sudah meningkatkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebagai timbal balik. Namun petani tetap saja petani, harga jual bahan pangan di pasaran tidak berkorelasi langsung dengan harga jual di tingkat petani. Sukris termasuk teman-temannya tidak bisa menggunakan HPP. Di desa mereka harga Gabah Kering Giling jauh lebih rendah daripada HPP untuk GKG. Pemerintah belum mampu menyentuh petani seperti mereka ini hingga ke pelosok desa. Tangan-tangan lintah darat justru semakin akrab dengan petani desa itu. Mereka membeli gabah kering dengan harga yang jauh lebih murah daripada HPP.

“Pak, ada apa? Tolong katakan kepada Ibu,” tanya istrinya. Sukris tidak menjawab, justru malah memeluk istrinya, mendekapnya, erat, dan semakin kencang.

Kesengsaraan dan keperihan hati Sukris karena terbelit hutang, ditambah sayatnya dengan semakin melajunya harga kebutuhan hidup dan harga pupuk dengan cepat. Belum lagi, rencana pemerintah akhir bulan ini menaikkan harga BBM. Apa jadinya, Sukris saat itu belum selesai memproduksi makanan dari padinya. Belum sempat mendapatkan keuntungan, belum sempat membayar hutang-hutangnya. Ya, hutang untuk semuanya, untuk pupuk, benih, pestisida, menikahkan anaknya, apalagi?, semuanya akan semakin mahal. Jelas tak cukup walau Sukris panen raya, sama nasib seperti gagal panen.

“Ibu, istriku, cintaku, pendamping setia dalam hidupku,” Sukris mulai membuka percakapan sambil mengusap matanya.

“Iya Pak, ada apa?,”

“Jika panen kapas tahun ini gagal, aku akan bunuh diri saja,”

“Astaga, apa yang bapak katakan, tidak, tidak boleh pak, ingat, sebutlah,”

Istrinya kemudian memeluk Sukris kembali. Mendekapnya erat dalam keyakinan suaminya pasti tak akan melakukan itu. Ia mengusap rambut Sukris pelan dan lembut. Berusaha menenangkan isi kepalanya yang sedang tertekan. Mencoba melemaskan otot-otot suaminya yang masih tegang setelah seharian bekerja. Selanjutnya diusap-usap dada suaminya agar hati kembali tenang. Istrinya yakin Sukris hanya kecapean dan tak mampu berpikir jernih.

Setelah yakin Sukris telah melupakan janji bunuh dirinya tadi. Diajaklah Sukris masuk kekamar. “Mari pak, tidur sama saya. Sini saya keloni biar kau nyenyak. Sudah, tidurlah dulu,” mereka berdua melangkah ke kamar setelah memastikan semua pintu telah terkunci. Tidurlah mereka, sementara melupakan hidupnya yang serba susah.

Keesokan paginya, keluarga Sukris menyambut pagi seperti biasa. Sarapan nasi tiwul dengan singkong bakar dan segelas kopi khusus untuk Sukris. Menu ini bukan menu sehari-hari mereka, dalam seminggu mungkin hanya bisa sarapan dua atau tiga kali. Ibu masih didapur menyiapkan gorengan bakwan untuk dijual dipasar sebagai tambahan penghasilan. Dibantu oleh putrinya sementara putranya bergegas berangkat sekolah. Walau masih menunggak bayaran sekolah, putranya cukup berprestasi di kelas.

“Bu, saya berangkat dulu ya,” pamit Sukris kemudian menyempatkan mencium kening istrinya. Istrinya justru terlihat terkejut, tak seperti hari-hari sebelumnya. Sukris tak pernah sekalipun berlaku seperti itu. Sukris melangkah memperlihatkan punggungnya yang semakin menghilang karena langkah demi langkah kaki Sukris. Tanpa sempat memperhatikan Sukris lebih lama, istrinya kembali mengambil adukan untuk membalik bakwan yang hampir gosong.

Sambil menaruh cangkul di pundaknya, menjinjing sekaleng obat pembasmi hama, dan bertopikan caping khas petani. Sukris melangkah menuju sawah yang letaknya sekitar 200 meter dari rumahnya. Ia berjalan menundukkan kepala. Memperhatikan langkah demi langkah sandal jepitnya yang semakin butut. Langkahnya memang pasti, pasti menuju sawah. Namun, pikiran Sukris entah kemana tanpa arah. Matanya memandang kosong, mukanya mulai memucat. Seolah ia memikirkan sesuatu, beban Sukris memang begitu berat. Gontai badan Sukris, namun masih dapat ditahannya. Ia kembali tegap berjalan, walau pikiran masih kosong.

Sesampai disawah ia menapaki pematang hingga ketengah, kemudian duduk di gubuk. Pagi itu dalam bayangan Sukris tak ada matahari yang mencerahkan. Tak seperti suasana sebenarnya, mata Sukris menyusupkan mendung dalam retina matanya. Yang ada hanya gelap, pagi yang tak bersahabat bagi Sukris. Bentangan bibit padi yang sebagian sudah terhampar di lahan membentuk karpet hijau nan indah. Namun tidak begitu dalam tangkapan mata Sukris. Yang terlhat baginya hanya gelap, hitam begitu pekat. Semua berubah menjadi siluet. Semakin Sukris mencoba membelalakkan matanya, justru semakin otot mata menekan pejam.

Selanjutnya, tubuh Sukris bergetar hebat. Ia mencoba mengendalikan jari-jarinya yang bergerak-gerak sendiri seperti ekor ular derik. Sukris tak mampu, justru sakit luar biasa yang dirasakan kemudian beku. Astaga, jari Sukris kini biru semakin pekat menjadi ungu.

Apa ini. Bekas manis gula dari kopi yang masih terasa tadi, kini menjadi pahit. Sukris berusaha menetralkan rasanya dengan mencoba membuang ludah. Namun jangankan meludah, mengeluarkan air liur di dalam mulutnya saja tak bisa. Auch, Sukris malah muntah. Jijik rasanya, ia mengeluarkan bergumpal-gumpal busa putih kental.

Sukris telah memutuskan, sejadinya meninggalkan semua. Ia meninggal dunia setelah menenggak hampir seperempat isi botol pestisida. Meregang nyawa meninggalkan semua bebannya. Berbalut kaus lusuh dan celana rombeng dalam gubuk. Tentu sebagai petani, Ia meninggal sebagai petani yang tak pernah hidup enak. Bahkan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan belum ia rasakan selama hidup.

Sukris mati tak membawa apa. Memang ia mau membawa apa? Janji-janji pemerintah? Subsidi untuk para petani? HPP yang telah naik? Lahan yang hanya sepetak? Teknologi dari profesor ternama? Kebutuhan harga bahan pokok yang semakin mahal? Harga BBM yang sebentar lagi naik? Semuanya nihil belaka. Sukris hanya meninggalkan istri dan kedua anaknya. Mangkat dengan tenang setelah Sukris tahu anaknya telah pasti jadi menikah.

Tak jauh dari sawah tempat meninggal Sukris. Tampak Jono, petani lain di desa itu. Menyerahkan sejumlah sertifikat tanah sebagai jaminan peminjaman uang. Jono menyerahkannya kepada lintah darat tentu dengan syarat bunga pengembalian yang besar. Ia ingin memulai garapan sawahnya untuk musim ini, membeli segala macamnya sebelum harga-harga naik. Padahal Jono sama yakinnya seperti Sukris, tak akan lagi gagal panen musim ini.[]