AKU TAK INGIN, ANAKKU
Oleh : Umar Said
Keringat Melly membuncah. Tak tanggung-tanggung, ukurannya sebutiran jagung. Mengucur deras dari dahi ke sekujur muka. Matanya berair, tapi bukan tangis. Air matanya semakin membasahi wajah. Kadang matanya dipejamkan cukup lama. Sekalinya membuka, melotot seperti hendak copot.
Ia dikelilingi dua orang wanita yang mengenakan baju serba putih. Wanita pertama tengah berkonsentrasi mendorong ranjang Melly. Satunya lagi, terus berusaha menenangkan. Sesekali meminta Melly mengatur nafasnya. Terkadang wanita itu berteriak ke orang-orang yang menghalangi jalan agar segera minggir.
Tangan Melly tak henti meremas perut buncitnya. Berulangkali nama tuhan disebut. Suaranya berat terucap permohonan ampun. Sesekali terdengar lirih dan terbata-bata mengucap doa.
Melly seperti tak kuasa menahan sakit di perutnya. Dari dalam sana, jabang bayi seolah tak peduli dan terus menendang. Ingin segera merangsek keluar.
Saat ini, Melly telah mencapai tingkat kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Sebuah kelahiran, hampir sama saat antara ambang hidup dan mati. Ada esensi pengorbanan. Sang jabang bayi sehat, hanya itu yang jadi keinginan ibu. Dan rasa-rasanya kematian sangat dekat di pelupuk mata.
Petang bergilir, Melly dibawa ke ruang persalinan. Seorang bidan sudah menunggu di dalam. Proses persalinannya berlangsung cukup lama. Wanita ini sudah setengah tak berdaya. Terus mengerang. Terkadang meronta. Tangannya menggenggam besi sisi ranjang. Begitu kuat ia remas, seperti ingin dibengkokkannya saja besi itu.
Nafasnya tersengal-sengal. Matanya kembali melotot, lebih seram dari sebelumnya. Bibirnya hanya terkatup-katup berusaha mengatur nafas. Sakit luar biasa yang dirasakannya ingin segera dilupakan. Dan hanya bayang senyum si bayi yang jadi penawar.
Adzan Magrib berkumandang. Merdunya menemani tangis bayi lelaki yang baru saja terlahir dari rahim Melly. Tubuhnya merah bawang. Parasnya lucu memanja. Dengan sigap dua orang suster yang membawa Melly tadi, langsung merawat si bayi. Melly sejenak melihat paras bayi mungil itu, kemudian langsung terlelap. Mungkin karena terlalu lelah.
Sang dokter tak melihat gelagat aneh dalam kelahiran ini. Prosesnya cukup berjalan normal. Bayinya pun terlihat sehat. Semoga dokter tak terkecoh. Sayangnya, Guntur, ayah si bayi tak hadir hingga detik ini.
Ditengah lelapnya, justru Melly didatangi seorang tua yang tak dikenal. Berbaju jubah serba putih. Keriput di parasnya isyaratkan orang ini berumur cukup tua. Janggut yang mengantung di dagunya lebat dan memutih.
Melly terbangun dari tidurnya ketika orang itu datang. Matanya dibuka perlahan, diperhatikan seksama si tua itu. Dalam pandang yang masih kabur, ia tetap bisa membedakan kalau lelaki ini bukan Guntur, suaminya.
“Syukurlah kau sudah sadar. Aku ingin mengajakmu pulang,” ujar lelaki tua itu. Melly masih mencoba sadar sepenuhnya. “Mari Nak, kita pulang,” Ajak lelaki itu kedua kalinya. Melly mengucek-ucek matanya, belum mau menanggapi, masih mencoba mencari kesadarannnya.
“Tidak, aku tak mau ikut denganmu.” Melly baru bisa menyahut. Suaranya lirih tertahan. “Aku ingin bersama anakku.”
Lelaki tua itu bergumam. Janggut ubannya diusap-usap. “Baiklah, Jika kau belum mau pulang. Demi anakmu, kuberi kau waktu.” Dan lelaki tua itu pergi berlalu. Melly terlalu lemah untuk menelaah maksud perkataan lelaki tua itu.
Selang beberapa menit, Guntur datang.
“Maafkan aku, Mel. Aku tak bisa menemanimu tadi,” ujarnya dengan mimik mengiba. Melly justru memasang muka kecut. Dia lebih ingin bertemu si buah hati daripada suaminya ini. “Tolong bawa anakku kesini. Aku ingin menggendongnya,” pinta Melly menghiraukan permohonan maaf Guntur.
Hubungan pasangan ini memang kurang harmonis. Sikap Guntur yang keras dan terkadang kasar sangat tidak disukai Melly yang cenderung lembut dan penyayang. Setelah menikah, banyak terjadi pertengkaran diantara mereka.
Tak jarang Guntur sampai memukul Melly. Bahkan disaat Melly hamil, Guntur masih suka berlaku kasar. Tak pelak Melly pun sering dipukuli saat perutnya sudah membesar. Masalah sepele, bisa jadi masalah besar di mata Guntur.
Melly merasa terlanjur. Saat pacaran dulu, Guntur tak seperti itu. Sekarang perangai buruk Guntur kepadanya terpaksa ia terima. Dan Melly pun hanya lebih ingin mewujudkan mimpi dari naluri keibuan-nya. Memiliki dan membesarkan seorang anak. Itu saja.
Hati Melly berbunga. Pelukan Melly hangatkan tubuh si bayi yang pulas tertidur. Dilihat seksama paras anaknya itu. Tak henti dibelai lembut pipinya.
Kebahagiaan seperti memenuhi seluruh ruang di hati. Kebahagiaan yang sempat sangat ia rindukan. Kini dibayar lunas oleh kehadiran si buah hati.
Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah pinggiran kota. Rumah itu merupakan warisan dari orangtua Melly. Sejak orangtuanya meninggal dunia, Melly yang merawat rumah peninggalan ini. Rumah yang menjadi saksi bagaimana Melly dididik dan dibesarkan oleh orangtuanya. Sekaligus menjadi saksi kesedihan Melly atas perlakuan kasar Guntur kepadanya. Dan sekarang, rumah ini akan menjadi saksi bagaimana anaknya akan dididik dan dibesarkan. Terpancar sinar harapan.
“Raffa, mimik yang banyak ya. Biar kamu jadi anak yang kuat. Jangan jadi orang lemah kaya ibumu” Melly menggendong anaknya di teras rumah. Raffa yang lapar seakan gemas dengan puting ibunya.
Semilir angin menyejukkan suasana saat itu. Matahari yang tidak terlalu terik ikut meneduhkan nuansa. Raffa Mahardika, sebuah nama yang dipilih Melly untuk anaknya. Entah bermakna apa.
“Raffa anakku, jadilah orang besar. Kelak kau harus pintar. Mampu mandiri dan berani,” terulang-ulang dendang tentang harapan-harapan Melly kepada anaknya. Terdengar mendayu-dayu. Melly bernyanyi dan bergoyang menghibur diri. Raffa cuek asik sendiri dengan puting ibunya.
Tak lama Guntur datang. Bingkisan plastik menggantung ditangannya. Sebuah rangkaian mainan plastik bergelantung lonceng kecil menjadi mainan pertama Raffa.
Lonceng itu digoyang-goyangkan di depan Raffa. Bergemerincing. Bayi itu tergoda. Berpalinglah ia dari dada Melly yang sedari tadi dilumatnya. Matanya mendelik-delik lucu seolah mencari bunyi lonceng itu.
Anehnya, Melly terlihat tak suka dengan mainan pemberian Guntur. Mungkin kenangan buruk masa lalu bersama Guntur begitu membekas di hatinya. Ia pun menjadi agak sentimentil. Dan selalu menjaga jarak dengan suaminya.
Lonceng sudah berpindah ke tangan Raffa. Walaupun tangan mungilnya memang masih sulit menggenggam. “Maafkan anakku, aku harus membuang mainan ini,” ujar Melly berbisik pada anaknya. Seketika mainan itu sudah terlempar jatuh ke tanah.
“Apa menariknya lonceng itu. Bunyinya hanya itu-itu saja. Aku tak ingin kau seperti lonceng itu, Anakku. Kaku tanpa nada. Gemerincingnya terkesan dingin dan pilu.”
Melly memilih mengulangi repertoar lagu yang sedari tadi didendangkannya untuk Raffa. Semakin lama suaranya terdengar makin merdu. “Anakku sayang, kalau kau ingin tahu bebunyian, dengar saja ibumu ini bernyanyi. Jangan dengar lonceng tak bernada itu. Ibu akan bernyanyi untukmu sepanjang hari. Agar kau bisa mengerti apa arti keindahan dan keteduhan yang sebenarnya. Ya, keteduhan, Nak,” ujarnya di sela-sela lagu.
Guntur yang tak mengetahui lonceng itu telah dibuang Melly, kembali memungutnya. Ia terheran-heran, Raffa yang semula senang dengan mainan pemberiannya, kini berpaling.
Beberapa kali mencoba mendentingkan pelan loncengnya, Raffa tetap bergeming. Kemudian digoyangkan lonceng itu lebih kencang, semakin ramai bergemerincing. Anak itu tak hirau seperti tuli. Guntur merasa kecewa. Padahal besar harapannya, Raffa akan sangat suka.
Setelah sekian waktu, Raffa kecil sudah bisa merangkak. Sangat gesit dan lincah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melly menemani sambil terus bernyanyi. Ia benar-benar tak pernah berhenti bernyanyi untuk Raffa. Tiap detik, tiap waktu, sekiranya telah banyak tercipta lirik dan nada.
Guntur senang melihat perkembangan anaknya. Dalam hatinya ingin Raffa selalu bahagia. Suatu saat, ia belikan sebuah robot-robotan sebagai mainan kedua untuk Raffa. Robot itu bisa mengeluarkan suara-suara unik. Kadang berdecit, kadang gahar, atau sesekali terdengar lengkingan seperti sirine.
Anak lelaki itu tertarik. Bolak-balik ia merangkak bermain dengan robotnya. Sesekali hanya dibanting-banting saja ketika robot itu berhenti bersuara. Gemas.
Melly yang sedari tadi menemani Raffa bermain. Ketika Guntur pergi ke belakang rumah, ia merampas robot itu. “Maafkan anakku, aku harus membuang robot-robotan ini,” bisikan Melly nyaris tak terdengar dekat di telinga Raffa. Dengan agak bertenaga, dilemparnya robot itu. Berguling-guling menyisakan suara terbata-bata dan akhirnya mati.
“Jangan menangis ya, Nak. Robot itu tak berguna. Lihatlah, robot itu telah disakiti oleh ibumu ini. Tapi tak ada perlawanan sedikitpun. Ah, robot itu pun harus selalu dikendalikan. Ia tak berdaya jika tuannya tak ada.”
Raffa nyaris menangis robotnya dibuang. Belai lembut Melly mengusap-usap rambut tipis di ubun-ubun anak itu, membatalkan tangisnya. Melly kemudian pergi ke dapur, ia mengambil sepasang sendok dan garpu.
Sendok ia selipkan di tangan kanan Raffa, dan garpu di kirinya. “Bermain saja dengan sendok dan garpu ini. Aku tak ingin kau seperti robot itu. Jika dianiaya, tak mampu melawan. Kau pun jangan mau dikendalikan. Belajarlah mandiri.”
Raffa yang belum mengerti perkataan ibunya, hanya memukul-mukulkan sendok dan garpu itu. Namun, ia terlihat cukup senang dengan “mainan” dari ibunya. “Lebih baik kau bermain ini, Nak. Kalau kau ingin belajar tentang kehidupan, jangan dari robot itu. Melalui garpu dan sendok ini, kau akan mengerti apa arti kebersamaan dan rasa ingin saling melengkapi. Begitulah seharusnya kehidupan,” Melly melanjutkan nasihatnya.
Guntur datang. Ia terheran-heran. Robot pemberiannya sudah tak ada di dekat Raffa. Dilihatnya anak itu malah asyik memainkan sendok dan garpu. Ia mengambil robot tadi, lalu membunyikannya. Berusaha menarik perhatian Raffa. Anak itu acuh saja.
Guntur semakin bingung, diambilnya sendok dan garpu itu dari Raffa. Tangis anak itu seketika meledak. Raffa mengamuk. Berguling-guling di lantai.
Raffa begitu lekat dengan sendok dan garpu itu. Ia tak bisa lepas bahkan saat makan, tidur, hingga buang air. Sedetik saja sendok dan garpu itu tak terlihat di sisinya, Raffa langsung mengamuk.
Keresahan hinggap di benak Guntur setelah melihat keanehan anaknya. Pernah sekali waktu, Raffa di ajak ke dokter anak. Kepada dokter, diceritakan perihal keanehan Raffa.
“Begini dok, saat kecil, ia tak hirau dengan suara lonceng. Laiknya anak tuli. Sekarang, ia tak suka mainan robot seperti anak kecil kebanyakan. Hanya sendok dan garpu yang disukai. Ada apa dengan anak saya, Dok?”
Dengan ritual seperti biasanya, dokter memeriksa Raffa. “Saya khawatir, ini gejala autisme,” ujar dokter itu dengan suara datar. “Apa dok? Dokter yakin? Coba periksa lagi, dok?,” Guntur merasa terpukul.
Diagnosis dokter membuatnya semakin resah. Rasa tak bisa menerima kenyataan melanda hati. Ditambah, terbayang tawa tetangganya nanti ketika mengetahui anaknya menderita autis. “Aku tak ingin, anakku autis.” Terucap dalam hati. Guntur tertunduk lemas di atas meja dokter. Terperangkap dalam tangis.
Ada kesedihan dan penyesalan mendalam. Rasa pilu itu semakin dirasakan Guntur, ketika ia tahu sejak Raffa berumur lima bulan hingga saat ini, hanya bisa berucap Mama.
Melly yang selalu menemani Raffa, terkejut mendengarnya. “Mama, mama, mama,” suara imut Raffa mengiang di telinga. Saat itu, sepertinya Melly ingin langsung lari ke tengah jalan, masuk ke lapangan, menembus hutan, melompat ke langit, hendak memberitahukan kepada semua orang jika anaknya sudah bisa memanggil dia dengan sebutan Mama.
Guntur awalnya ikut senang. Ingin sekali Raffa bisa menyebut juga kata papa, bapak, atau ayah. Sebuah panggilan untuk Guntur sebagai ayahnya.
Perlahan ia mengajari Raffa. ”Papa,” ucap Guntur menuntun Raffa agar mengikutinya. “Mama, mama,” sahut Raffa. Guntur tak menyerah. “Paaa….pa,” kali ini dengan tempo melambat. “Maaaa….ma,” sambut Raffa dengan tempo yang sama. Hingga saat ini, Raffa masih enggan menyebut ayah, papa, atau bapak untuk Guntur. Hanya berbilang, Mama.
Setelah sekian lama, umur Raffa bertambah. Memasuki usia sekolah taman kanak-kanak. Guntur berniat menyekolahkan anaknya di sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah. Harapannya pada Raffa yang semula sirna saat mengetahui anaknya menderita autisme, kini hadir kembali. “Semoga saja, ketika sekolah nanti, Raffa bisa pelan-pelan belajar dan berubah normal,” ucap guntur penuh harap.
Tas sekolah, baju seragam, sepatu baru, pensil, krayon, dan buku mewarnai disiapkan khusus untuk Raffa. Guntur mengantar sendiri anaknya sekolah. Raffa pun terlihat bersemangat. Ini hari pertama Raffa bersekolah.
Di sisi lain, Melly, ibunya, merasa kurang sreg jika Raffa harus bersekolah. Siang harinya, giliran Melly yang menjemput pulang sekolah. Dijalan ia terlihat membicarakan sesuatu dengan anaknya itu.
“Raffa anakku, untuk apa kau bersekolah? Sekolah hanya mengajarkanmu hafalan demi hafalan. Tak ada pelajaran memaknai sesuatu. Ya, hanya menghafal, kau tahu anakku?” ujar Melly sambil membelai rambut Raffa yang sudah semakin lebat.
“Sekolah bisa membatasi pikiran kreatifmu dengan peraturan-peraturan. Sekolah hanya mengajari apa yang benar menurut peraturan yang ada. Bukan mengajari apa yang benar menurut hati nurani-mu sendiri, Nak.”
Mimik muka Raffa terkesan heran mendengar pernyataan ibu barusan. Melly tersadar anaknya agak bingung. Sementara ini, ia mencoba mengalah. “Baiklah anakku. Kalau suatu saat nanti kau memang ingin sekolah. Kau boleh sekolah. Tapi janganlah kau bekerja terlalu keras mencari uang hanya untuk membiayai sekolahmu. Jangan pula kau terlalu bersusah payah mencari penghidupan layak. Karena itu semua tugas negara. Ya, tugas negara, anakku. Kau harus ingat itu.”
Keesokan harinya, Raffa enggan bersekolah. Ia hanya memainkan sendok dan garpu kesayangannya. Guntur mencoba merayu dengan segala cara. Raffa bersikukuh. Guntur tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa untuk memaksa. Ia semakin frustasi dengan kondisi anaknya ini. Baru kemarin Raffa terlihat bersemangat sekali bersekolah. Kini, tas dan seragam barunya tak disentuh sedikit pun.
Dalam hati Guntur, ada amarah tak terluapkan. Ingin rasanya mengamuk. Watak kasar yang selama ini menjadi pembawaannya meronta-ronta. Frustasi menggenangi pikirannya. Pandangannya buta. Terkikis harapan-harapan. Uang pesangon miliknya nyaris habis untuk biaya pendaftaran sekolah Raffa. Tiba-tiba ia teringat Melly, istrinya. Terpancar penyesalan atas perbuatannya di masa lalu. Kini, ia harus menerima beban anaknya yang tak terlahir sempurna.
Guntur tak kuasa menahan beban pikirannya. Ia berlari ke luar rumah. Meninggalkan Raffa yang masih asyik dengan mainan setianya.
Di teras terlihat Melly sedang kedatangan tamu. Seorang tua berjubah putih sedang membicarakan sesuatu bersamanya. Lelaki yang pernah bertemu dengan Melly sesaat setelah melahirkan itu, kini datang lagi.
Raffa yang sedari tadi cuek, meletakkan sendok garpunya. Ia melihat ibunya pergi bersama orang tua berjubah putih itu. Raffa tak mau ditinggal sendiri di rumah. Ia beranjak ikut keluar rumah, berusaha mengikuti jejak Melly. Padahal saat itu, petang hampir usai.
Langkahnya yang kecil, tak sanggup menyusul Melly yang telah pergi entah kemana. Tak sengaja, ia justru melihat ayahnya berlari gontai tak tentu arah. Raffa kecil berbalik arah berusaha menyusul ayahnya.
Adzan maghrib menggema di angkasa. Menemani isak tangis Guntur. Berhenti berlari dan terduduk lesu di suatu tempat. Kepalanya luruh tak berdaya. Air mata membasahi pipi hingga pakaiannya. “Melly, maafkan aku. Melly. Tolong, Maafkan aku,” desah Guntur.
Raffa hanya terdiam mengintip dari balik pohon beringin. Sekira empat langkah dari tempat ayahnya duduk itu. Terdengar dari balik pohon sangat lirih suara ayahnya. Sesekali hilang terbawa angin.
Selang beberapa saat, ayahnya kembali lari. Semakin tak tentu arah. Terkadang hanya berputar-putar di satu tempat. Guntur berteriak-teriak tak jelas. Sesekali hanya bergumam. Mendesis lirih. Kemudian berteriak-teriak lagi. Guntur sakit jiwa.
Raffa tak hirau dengan tingkah aneh ayahnya. Memilih beranjak dari balik pohon beringin. Kakinya dilangkahkan menuju tempat dimana ayahnya tadi terduduk lesu dan menangis sedu.
Raffa hanya tertegun kaku. Di hadapannya ada sebuah gundukan tanah. Di ujung sisinya, tertancap sebuah nisan yang terukir sebuah nama, Melly Rahmitasari. Tepat di bawah ukiran nama itu, tertera tanggal kematiannya, yang sama dengan tanggal kelahiran Raffa.
Satu kata terucap, “Mama.” []
Cibitung, 19 – 21 Oktober 2010