
KURCACI AMPAS KOPI
Tak ada yang mengerti, mengapa kopi itu dibiarkan menggenang saja. Secangkir kopi yang bukan tak bertuan. Pun tak mungkin pelayan menyajikan tanpa ada yang memesan. Namun kuperhatikan di bibir cangkirnya tak ada bekas bibir. Bibir yang seharusnya sedari tadi mencecapi dengan sangat perlahan cairan hitam itu. Bukankah begitu cara meminum kopi? Sedikit demi sedikit. Dari kecupan ke kecupan. Diawali dengan menghirupi wangi aromanya, meresapi cita rasa ramuannya, sampai mencandui efek sampingnya. Baru bisa diakhiri setelah mulut kita mencumbui ampas kopi yang tersisa di dasar cangkir. Ah, percuma jadi banyak bicara, lagipula pemilik bibir itu pasti bukan tak mengerti bagaimana cara menikmati secangkir kopi. Jikalaupun begitu, tak mungkin ia datang ke kafe yang namanya terdiri dari kata kopi ini. Yang sudah pasti kafe ini menyediakan kopi sebagai menu utama.
Sepertinya memang bibirnya sudah malas. Akhirnya cangkir itu yang menjadi korban kemalasannya. Tak disentuh sedikitpun, padahal aroma kopinya begitu menggoda birahi. Tersirat olehku, bibir itu bukan malas. Melainkan sudah terlalu bosan. Bibir yang telah bosan mencumbu. Kupikir pasti bibir itu telah mencumbu banyak bibir. Bibir yang telah berpetualang dari bibir satu ke bibir lain. Hingga akhirnya sampai ke titik terjenuh, dan tak sanggup bibir itu mencumbu apapun lagi, termasuk cangkir di hadapannya. Siratan pikir yang kulanjutkan dengan terkekeh sinis dalam hati.
Memikirkan soal bibir, aku jadi teringat bagaimana lelaki itu menciumku pertama kali yang berarti untuk pertama kalinya pula aku berciuman. Lidahnya berpagut dengan lidahku. Menulur-julur entah apa yang ingin diraihnya. Aku sudah tak sanggup menolak, walaupun belum tahu bagaimana cara menikmati bibirnya. Gemetar melanda. Getar yang belum pernah kurasa bisa menjalar hingga ke puting di dada. Rasa-rasanya sampai tak sanggup kumenahan lenguh.
Lama kelamaan, bibir lelaki itu bak mesin cuci yang haus akan baju kering. Seperti tak rela melihat bibirku kering barang sedetik saja. Dari waktu ke waktu bibirnya seolah ingin terus menggulung-gulung bibirku. Melumat dari bibir atas ke bawah hingga kanan ke kiri. Tak ayal, bibir ini banjir dengan air liurnya. Bukan itu saja, setelah cukup basah air liurnya, diperas bibir ini sebagai kecupan terakhir. Air liurnya yang kuyup di bibirku sesaat lalu, seketika saja kering kembali. Baru kurasa saat akhirnya, bibirku kelu. Sial. Awalnya kunamakan ini pembuktian cinta. Ya, mungkin memang harus seperti ini perjalanan asmaraku. Yang pasti berlaku pula untuk yang lainnya. Dan lagipula aku mulai bisa menikmati kinerja mesin cuci ini.
Belakangan baru kusadar, pasti sudah banyak baju yang di cuci oleh mesin cuci sialan ini. Bermacam-macam baju pasti sudah dilumatnya. Setelah kutahu, ingin kululuhlantakkan mesin cuci itu. Hingga tukang reparasi elektronik di seluruh dunia ini pun tak mampu memperbaiki kerusakannya. Namun kekesalan ini belum sampai menjadi penyesalan. Aku justru lebih tunduk pada rasa ketagihan. Cumbuannya selalu mengingatkanku pada getar itu. Getar yang mampu menjalar ke putingku. Sialnya, terkadang malah muncul sebagai rindu.
Rindu yang memang bisa kapan saja muncul. Sama seperti saat kumulai kecanduan meminum kopi ini. Seketika saja kepalaku bisa nyeri saat rindu akan kopi mulai menghinggapi. Tak ada cara lain, rindu ini harus terbayar. Dan kubayar lunas rinduku di kafe ini. Apapun cara kan kutempuh selama rinduku akan kopi bisa terobati.
Kopi, mudah untuk kucari. Lantas bagaimana dengan rinduku akan cumbu. Dimana aku harus membeli kerinduan itu. Terkadang aku hanya bisa menggelinjang sendiri ketika canduku untuk mencumbu kumat lagi. Salahku terlalu berani memulai. Akhirnya aku tak bisa mengakhiri. Dan lelaki brengsek itu, entah berada dimana. Mungkin sedang bercumbu dengan korban yang lain.
Sudahlah, aku terus mencoba untuk tak terlalu memikirkan. Kupesan saja kopi yang berbeda dengan yang biasanya. Kiranya mencoba menikmati seduhan kopi yang lain bisa mengalihkan pikiranku dan melupakan rindu laknat itu. Segala resep kopi kucoba satu per satu. Memang benar, Akhirnya aku bisa tenggelam dalam genangan tiap resep kopi yang kucicipi ini. Kutenggak Macchiatto, Cappucinno, Espresso, hingga Kopi tubruk yang banyak ampas. Bahkan kucoba pula kopi klotok yang direbus bersama arak. Kucumbu cangkir demi cangkir, mungkin lebih baik begitu. Daripada terus terbayangi cumbuan bibirnya.
Bibir yang melekuk-lekuk, bak sayap yang siap terbang kian kemari. Sayap yang akhirnya tak hinggap di bibirku saja. Mungkin sama sayap itu ingin sepertiku, ingin mencicipi seduhan ramuan kopi yang lain. Sayap yang tak ingin hanya menikmati bibirku saja. Terbang mencari lubang-lubang. Entahlah mungkin ia mencari madu di lubang-lubang itu. Sesekali menggelitik lubang telingaku. Namun tak ada apa-apa disana. Hanya geli sesaat saja yang kurasa. Sayap itu justru terdampar di bukit dekat dadaku. Dan menemukan biji kopi yang masih merah ranum di puncak bukitnya. “Tak ada madu, biji kopi pun jadi,” pikirnya mungkin seperti itu. Dihisap mesra biji kopiku itu. Kemesraan yang membuat kuku-kuku jariku menancap kencang ke sisi ranjang.
Tak lama, kuku-kuku miliknya menjelma menjadi kurcaci-kurcaci lucu. Parasnya imut, tingkahnya pun jenaka, membuat aku ingin tertawa-tawa. Apalagi saat kulihat mereka begitu bersemangat memanjati bukit ditubuhku. Sesekali terpeleset dan terguling-guling jatuh. Tak putus asa, kurcaci-kurcaci itu terus mencoba panjati bukitku. Teman kurcaci yang lainnya, asik bermain di hamparan salju putih di atas tubuhku. Mereka riang melempar bola salju dan berlarian mengitari hamparan salju di perutku.
Setelah cukup bosan bermain-main disana, kurcaci-kurcaci lucu itu kemudian pergi ke lembahku. Disitu mereka laik murid Taman Kanak-Kanak bermain perosotan. Siuutt, meluncur ke bawah, kemudian naik kembali ke puncaknya secara bergantian sambil tertawa-tawa. Asyiknya mereka bermain-main di pangkal pahaku. Kuku jariku pun semakin kencang menancap di sisi ranjang. Aku mengejang.
Kurcaci sialan. Seenaknya saja mereka bermain disana, di bukit dan di lembahku. Baru kusadar sekarang, pasti sudah banyak bukit dan lembah yang dijadikannya tempat bermain. Berloncatan dari bukit satu ke bukit lain. Ah, dasar kurcaci berhidung belang. Sialnya aku baru sadar belakangan. Ingin rasanya kusiram mereka dengan kopi panas kesukaanku ini. Mengapa setiap petualanganku mencoba tiap resep ramuan demi ramuan kopi ini, masih juga mengingatkanku pada petualangan kurcaci-kurcaci dan sayap iblis itu. Seharusnya aku sudah melupakan kuku siluman dan bibir biadab itu.
Bibir yang sampai saat ini belum juga menyentuh cangkir itu. Sampai-sampai kepul asap panasnya air kopi itu hilang. “Apa enaknya kopi dingin seperti itu?,” ujarku lirih. Sementara itu ampasnya sudah mengendap semua di dasar cangkir. Ampas kopi yang sudah tak ada harganya yang hanya setia pada tong sampah. Sekalipun seorang pecandu berat kopi, tak ada satu pun yang menelan habis hingga ke ampas kopinya. Hidup di dunia jaman sekarang ini, tak bisa menolak kemunafikan. Tak ada yang mau pahitnya ampas, setelah puas betapa sedapnya kopi itu. “Ah, persetan,” pikirku.
Tak lama, datang seorang necis berjas nan lengkap berdasi. Dari kejauhan bibirnya seolah mengepak-epak bak sayap. Hidungnya jelas sekali tampak belang. Tangannya dilambaikan ramah ke arahku, seolah memamerkan para kurcaci-kurcaci yang menempel di jari-jarinya. Seketika saja ia sudah ada dihadapanku seraya meraih cangkir kopi itu. Kopi yang diminumnya dengan sekali teguk saja. “Sialan, bukan begitu caranya meminum kopi,” teriakku dalam hati.
Kurcaci itu kembali melambai bersama sayapnya yang ingin segera membawaku terbang. Terbang mengikuti arus canduku akan cumbu. Terbang yang tak bisa kutolak sekuat apapun aku berontak.
Akhirnya diriku pun ikut terbang bersamanya. Diriku yang menjelma menjadi ampas kopi yang terbenam tak berharga di dasar cangkir itu. Setelah aku melacurkan diri melayani kurcaci-kurcaci dan sayap itu semalaman nanti. []
© Umar Said Jakarta, Kamar 707
10/02/2011
suka yg ini nih! jago euy bikin analoginya (baru baca 2 soalnya)..
keep on writing!!
baca yang cerpennya ya. trims ya. keep on writing!
mar, mar, yg ide dariku udah ada belom?hohohoho
Masih salam proses pengendapan pemikiran ly, hehehe
baiklah mar, notice me jika sudah
Siaappppp, aq lg menikmati nulls artikel. Someday kembali ke fiksi lagi,, hehe….