SECANGKIR KOPI YANG TERTINGGAL
Oleh : Umar Said
Tak biasanya, sabtu sore itu, Tora mandi lebih awal. Selepas pulang dari kantor, sesampainya di rumah ia langsung menuju ke kamar mandi. Padahal keringatnya belum sempat kering. Ia mandi dengan terburu-buru. Tempo dari gelagatnya baru menurun ketika ia hendak shaving. Mengikis perlahan sedikit demi sedikit bulu-bulu yang tumbuh di mukanya. “Terlihat lebih muda,” sambil melirik ke cermin seraya mengelus-elus dagunya. Aroma maskulin pun menyembul dari botol parfum membasahi sela-sela ketiaknya. Tempo gerak-geriknya kembali naik. Kembali terburu-buru. Sampai belum sempat mengancingkan baju kemejanya. Ia langsung menuju mobil. Setelah sebelumnya sempat bolak-balik ke cermin memastikan tiap helai rambutnya sudah spiky. Kali ini, Tora yang biasa cuek, jadi rada genit.
Deru knalpot mobilnya membahana ikut meramaikan jalanan kota. Sore itu, mendung menggelayut. Tak lama hujan turun. Telepon genggam Tora tiba-tiba berbunyi. “Maaf, tunggu sebentar ya. Aku terjebak macet. Maaf.” Berulang kata maaf terucap dari mulut Tora. Sepertinya ia berusaha menenangkan seseorang yang bicara dengannya melalui telepon itu. Walaupun sebenarnya hati Tora gusar, tidak lebih tenang, harus terjebak macet ditengah keterburu-buruannya. Hatinya lebih ingin memaki. Hidup di kota, baru hujan sedikit saja, sudah banjir dimana-mana. Jalanan pun seketika langsung macet.
Di tempat lain, di sudut luar sebuah kafe, seorang gadis terlihat gelisah. Sesekali ia menggesek-gesekan kedua telapak tangannya. Bibirnya kelu. Giginya bergemeletuk. Angin dingin mensusupi kulitnya yang mulus. Hujan makin deras. Bulu halus di tangannya berdiri. Ia merinding kedinginan. Pelayan kafe menghampiri menawarkan menu minuman hangat. “Aku pesan nanti saja, sambil menunggu teman,” ujar gadis itu. Si pelayan langsung menarik kembali buku menu yang sempat disodorkan. “Maaf, tolong bawakan saja saya asbak,” pinta gadis itu sebelum si pelayan meninggalkan meja. Pelayan mengangguk, berlalu mengambil apa yang diminta pelanggannya. Terdengar lirih suara korek dipantik. Tak lama asap mengepul di sekitarnya. Sebatang rokok rasa mint menggantung di bibir gadis itu. Sekiranya cukup menjadi penawar dari udara dingin.
Rokoknya diselipkan di bibir asbak. Kemudian ia merogoh sebuah telepon genggam dari tas pinggangnya. “Tora, kau sudah dimana? Lama sekali?,” seraya mengangkat kembali rokoknya dari asbak. Terdengar dari balik telepon itu seorang pria mengiba. Meminta maaf karena ia terlambat datang. Berulang kali kata maaf tersiar dari mulutnya. Sudah hampir satu jam gadis itu menunggu kedatangannya. Gadis itu menghela nafas. Berusaha sabar. “Ya sudah, aku tunggu.” Jika saja rindu ini bisa tertahan, mungkin ia akan marah. Akhirnya ia hanya memaki dalam hati.
“Maafkan aku. Sebentar lagi aku sampai, kau pesan saja dulu. Sekalian aku pesankan segelas kopi,” suara Tora timbul tenggelam dalam riuhnya suara hujan. Sebab rindu sudah di puncak, ia rela menunggu, dalam dingin. “Jika saja bukan kau Tora, aku sudah pergi dari tadi,” lirih suara dari mulutnya. Giginya terus bergemeletuk. Rokok dimulutnya nyaris jatuh tak terjepit dengan baik oleh bibirnya yang gemetaran. Dingin.
Di meja sudah terhidang dua cangkir kopi. Kopi hitam untuk Tora. Dan segelas Cappucinno untuk Khalisa. Ya, gadis itu bernama Khalisa. Sudah hampir dua tahun ia tak bertemu dengan Tora. Mereka dahulu berpacaran. Sampai akhirnya memutuskan berpisah. Kini mereka bersepakat untuk bertemu lagi.
Khalisa asik dengan rokoknya. Baranya membakar setengah panjang rokok itu. Sesekali ia bermain-main dengan asapnya. Khalisa terkejut. Tora tiba-tiba sudah ada dihadapannya. Bara rokoknya langsung ia jejalkan ke asbak. Berhembus asap terakhir. Tora terlihat santai, perlahan diteguknya kopi hitam itu.
“Maafkan aku cantik, banjir, macet dimana-mana,” ujar Tora. “Tak masalah. Bagaimana kabarmu Tora?” Setelah hampir satu tahun tidak bertemu, keduanya masih terlihat grogi. “Kopimu sudah hampir habis, mau aku pesankan lagi, Khal?,” Sambil melirik ke arah gelas Capucinno Khalisa yang nyaris kosong. “Tak usah, maaf, aku minum duluan. Disini dingin.” Tora mengambil lagi gelas kopinya. Berusaha membunuh dingin yang merasuki tubuhnya. Kesempatan itu digunakan Khalisa untuk memperhatikan Tora. Khalisa sudah sangat merindukan Tora, begitu pun sebaliknya.
“Tumben kau mengajak aku?,” ujar Khalisa. “Ya, aku ingin mentraktir kamu saja. Takut keburu mati.” Tora terkekeh. “Memangnya kamu mau mati muda?,” balas Khalisa. “Jangan gitu dong, aku kan belum nikah. Hmmm, Aku kangen kamu, Khal,” seloroh Tora. Kali ini dengan mimik muka serius. “Setelah kita putus. Aku tak pernah mendengar kabarmu lagi. Aku tak bisa berhenti memikirkan kamu.” Khalisa hanya tersenyum. Sorot matanya mengisyaratkan kerinduan. Namun tak kuasa berucap kalau ia pun rindu Tora. “Oiya, bagaimana dengan Bimo?” sambut Tora berganti topik.
Bimo, kekasih Khalisa saat ini. Setelah putus dengan Tora, tak lama Khalisa berpacaran dengan Bimo. Tora dan Bimo sama-sama kuliah di satu kampus dulu. Mereka bahkan berteman baik.
“Aku sudah tunangan dengan Bimo. Tak lama lagi kita pun akan menikah.” Tora langsung menarik cangkir dari bibirnya. Kopinya yang terlanjur sudah di mulut ditenggak perlahan. “Oiya? Wah, kalo gitu selamat dong,” sambil menjulurkan tangannya mengajak berjabatan. Tora berusaha bersikap wajar walaupun hatinya bergejolak. Khalisa tidak langsung membalas uluran tangan Tora. “Itu dia yang menjadi masalahnya Tor. Aku ragu. Bimo sangat baik terhadapku. Tapi…,” suaranya tertahan. Tora yang sedari tadi diam mendengarkan, ikut menunggu sejenak. Ia gemas. Lalu mengacak-acak rambut Khalisa. Hal itu biasa Tora lakukan pada Khalisa saat masih pacaran dulu. Khalisa tak pernah marah rambutnya yang sudah rapih diacak-acak. Ia justru senang. Mungkin itu gaya Tora menunjukkan kegemasan dan sayangnya pada Khalisa.
“Iya Tor, tapi…Bimo tidak seperti kamu. Aku sangat rindu kamu, Tor,” ujar Khalisa meneruskan kalimatnya yang sempat tepotong tadi sambil merapihkan kembali rambutnya. “Selama ini aku tak punya perasaan sayang atau apapun sama Bimo. Hidupku kubiarkan mengalir saja bersamanya. Memang Bimo bisa membuat aku laiknya tuan putri. Apapun yang aku pinta, bisa ia berikan. Tapi ia tak bisa seperti kamu Tora.” Mendengar itu, Tora tak ingin langsung menanggapi. Ia mengusap pelipisnya yang basah terkena air hujan tadi. Matanya menerawang.
Bagi Khalisa, Tora sosok yang sempurna. Sifatnya yang penyayang, pengertian, dan pantang menyerah mampu meluluhkan hati Khalisa. Namun, belakangan Tora sering memaksakan sesuatu hal kepada Khalisa. Hal ini membuat Khalisa jengkel dan jenuh. Di balik semua itu, Bimo yang juga bersahabat dengan Tora, menaruh hati kepada Khalisa. Beberapa kali ia berusaha mendapatkan simpati Khalisa. Usahanya kandas, setelah tahu Khalisa lebih memilih Tora. Sampai akhirnya, hubungan Khalisa dan Tora mulai goyah. Mereka pun putus cinta. Khalisa yang tak bisa hidup tanpa didampingi seorang pria. Akhirnya memilih Bimo, sekaligus untuk mengurangi kesedihan karena harus berpisah dengan Tora.
“Kau sekarang merokok, Khal? Bukankah kau tak pernah suka? Bahkan dulu kau yang memintaku untuk berhenti merokok,” ujar Tora, masih tak mau buru-buru menanggapi pernyataan Khalisa tadi. “Selama ini, hanya rokok ini yang mampu menawarkan rasa rinduku kepadamu, Tor.”
Tora tak ingin pertemuan ini hanya diisi kesedihan. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan. “Bodoh, aku baru ingat!,” sentak Tora. Khalisa yang sempat melamun ikut terkejut. “Ada apa Tor? Kamu ingat apa?” Tora tak langsung menjawab, ia terkekeh sendirian. “Aku baru ingat, tadi sepulang kerja. Aku langsung mandi. Menyikat gigi, sudah. Mencuci muka, sudah. Keramas, juga sudah. Tahu tidak apa yang belum? Aku belum sabunan badan, bodohnya ya?” suara tawa Tora terbahak-bahak. Khalisa langsung memukul pundak Tora. Satu cubitan ia berikan sebagai bonusnya. “Dasar kamu yang jarang mandi. Sekalinya mandi, itupun lupa sabunan,” ujar Khalisa kesal. Pembicaraannya yang cukup serius tidak ditanggapi Tora. Padahal cukup sulit baginya untuk menceritakan hal itu. “Aku memang malas mandi. Ingin sekali ada yang memandikan aku, Khal,” sambut Tora seraya menghabiskan tawanya. “Ah, kau ini sudah dewasa Tor. Siapa yang mau memandikan kamu. Kecuali kau sudah meninggal dunia nanti, ugh!,” Khalisa semakin kesal. Tora menghentikan tawanya. Ia menyadari kalau Khalisa benar-benar tak sedang ingin bercanda.
“Memangnya apa istimewanya aku?,” tanya Tora mencoba mengembalikan alur pembicaraan. Poni Khalisa yang sempat diacak-acak tadi, dibelai perlahan. Dengan lembut dan penuh perasaan ia mengusap rambut Khalisa.
“Iya Tor, Bimo bisa perlakukan aku seperti tuan putri. Tapi ia tak bisa menjadi pangeranku. Tidak seperti kamu. Kau sangat memanjakanku. Bahkan, dengan ketulusanmu kau mau ikut menyangga beban hidupku. Iya, beban batin yang selama ini selalu menghantuiku. Kau mau ajarkanku arti kehidupan. Dan kita pun belajar bersama soal itu. Soal kebijaksanaan.” Tora pun secara seksama mendengarkan. Ia kapok melucu. Namun tangannya tetap iseng sibuk memelintir rambut Khalisa. “Kau buatkan aku sebuah puisi tiap pagi. Tentang semangat dan mimpi-mimpi kita. Atau tentang hikmah kejadian masa lalu. Aku berani bertaruh, tak ada catatan harian seindah puisi-puisimu itu. Keromantisan kamu yang aku dambakan, Tor,” ucap Khalisa, sambil menarik nafas cukup dalam. Matanya mengembun. “Bahkan kau dengan tulus belajar tentang apa yang aku inginkan. Dan sedikit demi sedikit kau mampu memenuhi keinginan-keinginanku.”
“Cukup Khal, hentikan. Aku tak ingin kau sedih,” Tangan Tora diselipkan diantara leher dan telinga Khalisa. Sementara itu jempolnya diusapkan dengan lembutnya di pipi Khalisa. Tora berusaha menenangkan. Sejenak Khalisa menikmati perlakuan Tora. Sebuah kenyamanan yang ia rindukan. “Aku sayang kamu, Tora.”
Mendengar ucapan itu, Tora langsung membenarkan duduknya. Mungkin ia agak grogi. Kata-kata itu sudah lama tak didengarnya. Tangannya yang sedari tadi menempel di wajah Khalisa, dipindahkan menggenggam tangannya. Jempolnya tetap membelai lembut punggung tangan Khalisa. “Aku yakin kau pun tahu perasaan aku sama kamu, Khal. Sampai detik ini, masih kusimpan cinta untukmu. Tapi bukankah itu yang menjadi masalahnya. Sampai kamu memutuskan harus mengakhiri hubungan kita,” kali ini Tora angkat bicara.
Khalisa mengangkat sehelai tisu dari meja. Tetes air di sudut matanya perlahan diusap. Ia pun melanjutkan pembicaraan. “Saat itu aku terpaksa. Aku bosan dengan kamu yang selalu menyuruhku untuk berusaha mencintaimu. Kau kan tahu itu sulit bagi aku. Biarkan aku terjebak dalam masa laluku. Kau tahu semua cerita itu kan? Aku pernah sangat dikecewakan oleh lelaki. Jadi, sulit bagiku untuk percaya penuh kepada lelaki sampai saat ini. Termasuk kamu Tora. Walaupun, sungguh, aku sayang sama kamu. Tapi aku tak bisa mencintaimu, Tor. Aku tak bisa punya rasa terlalu dalam. Aku takut. Hatiku sudah beku oleh ketakutanku.”
Mereka berdua terdiam beberapa menit lamanya. Hujan menyisakan rintik. Embun di kaca pun mulai menguap. Udara dingin yang sedari tadi merasuki, kini tertiup pergi. Matahari mengintip di balik pepohonan. “Maafkan aku, Khal. Tak ada maksud aku untuk memaksamu. Hingga kau merasa bosan. Aku hanya tak ingin kau kalah. Aku tak rela jika selama hidupmu, hanya lelaki yang telah memberimu ketakutan itu yang kau beri cinta. Aku ingin kau berusaha, Khal. Berusaha menata hatimu. Berusaha mencintaiku, Khal. Semua pintaku untuk kebaikanmu juga, Khal. Aku sangat peduli padamu. Percayalah,” Tora mendesah. Berusaha menahan emosinya. “Apakah seumur hidupmu…,” terpotong menarik nafas panjang. “….kau hanya akan memberikan cintamu pada lelaki yang telah merusak masa depanmu semata?” terhembus perlahan nafas yang tadi tertahan.
Kekecewaan Khalisa akan cinta, sudah mencerabut segala bentuk kepercayaannya pada tiap lelaki. Bahkan, rasa cinta itu sudah tanggal dari hatinya. Ketulusan seorang Tora yang mau berbuat apapun untuk kebahagiaan Khalisa. Tertutupi oleh dosa-dosa masa lalu. Begitulah cinta berkisah. Melekat dalam kehidupan, bagai pertaruhan, antara kenangan indah dan noda-noda yang melekat di dada. Cinta bagi Khalisa sudah selesai. Ia membunuh cintanya dengan skeptisisme negatif dan takkan pernah ada kepercayaan berlebih. Enggan memakai hatinya lagi untuk mencintai.
“Kau tahu, saat berpisah denganmu, aku jadi sadar sesuatu. Kepedihanku sungguh mendalam, Tor. Aku yang tak bisa menangis karena lelaki. Kali itu aku menangis. Kepedihan itu terasa indah bagiku, Tor. Seperti sesuatu yang sudah lama tak kurasakan di hatiku. Aku tak berani menyebut itu cinta yang tumbuh, atau apapun itu. Hanya saja, kepedihan itu mengusik hatiku yang selama ini hampa. Rasanya ada keindahan, ada kerinduan,” jelas Khalisa sambil mengusap air matanya yang masih menggantung di kelopak. Tora masih mengelus-elus rambut Khalisa dengan lembut. Tangannya menjalar dari poni hingga ujung rambut. Sesekali ia menciumi rambut Khalisa yang wangi.
“Bimo memang sering mengatakan sayang. Tapi aku tak butuh kata-kata, Tor. Betapa aku rindu kamu yang tak hanya berkata sayang padaku. Tapi kau pun berikan sayang itu secara lengkap. Dengan semua perlakuanmu padaku. Dengan semua ketulusanmu memberikan perhatian kepadaku. Dengan semua kerelaanmu menghabiskan waktu-waktumu untuk menemaniku. Kau beri aku sayang secara utuh, Tor. Aku lebih menginginkanmu daripada Bimo.”
Tora melepas belaiannya. Cangkir kopi yang nyaris dingin diangkat kembali menuju mulutnya. “Bukankah waktu itu, kamu yang menginginkan Bimo?” Pertanyaan Tora mengusik Khalisa. “Maafkan aku, Tor. Aku bosan dengan tuntutanmu untuk belajar mencintaimu. Bimo tak pernah menuntut apa-apa dariku. Ia tak banyak mengatur aku. Tapi itu masalahnya, Tor. Bimo bisa memberikan kebahagian untukku, tapi….bukan kebahagiaan yang aku mau. Bimo bisa wujudkan mimpi-mimpinya, tapi…bukan mimpi yang aku mau, Tor. Kalau kamu, tak pernah kau bicarakan soal kebahagiaanmu. Tapi kau selalu ingin kita bahagia. Bahkan tiap hari, kau selalu sempatkan bertanya apakah hari itu aku bahagia? Kau pun tak pernah bicara soal mimpi-mimpimu untukku. Tapi kau selalu berusaha wujudkan mimpi-mimpi kita. Bersamamu, selalu tentang kita. Bukan tentang aku, ataupun tentang kamu. Kau benar-benar lelaki yang aku idam-idamkan dalam hidup aku, Tor,” ucap Khalisa agak panjang. Sampai-sampai ia merasa haus, ditengguknya sisa Cappucinno hingga tetes terakhir. “Tapi sekarang semua sudah terlanjur. Kau pergi terlalu lama meninggalkanku, Tor.”
“Hmm, kalau benar, ada lelaki yang menjadi idamanmu. Kenapa kau tak belajar mencintainya? Kenapa kau tak mau berusaha untuknya, Khal?” timpal Tora. “Sungguh, aku sayang kamu, Tor. Tapi aku takut mencintaimu,” Khalisa mencoba meluruskan. “Berarti kau tetap tidak percaya padaku, Khal. Sama seperti kau kepada lelaki lain. Kau selalu menyangsikan ketulusan aku padamu. Aku tahu kamu begitu karena masa lalu yang pahit itu. Disaat ketidakpercayaanmu itu muncul, sakit rasanya, Khal. Semua yang aku lakukan jadi serasa sia-sia belaka. Aku hanya ingin kau berusaha mencintaiku. Tak sekedar menyayangiku, Khal. Tapi kau tak mau berusaha dan memilih kalah!”
“Maafkan aku, Tor. Sudah lama kita tak bertemu. Di kesempatan yang jarang ini, aku malah meracau kemana-mana. Maafkan aku. Kau memang yang paling mengerti siapa aku, Tor. Cuma kamu yang bisa begitu,” seloroh Khalisa mencoba mengembalikan kehangatan suasana. “Tak apa-apa, Khal. Justru aku mengajakmu bertemu, karena aku ingin minta maaf padamu. Maafkan aku karena pernah membuatmu menangis, Khal. Seharusnya aku mau terus berjuang denganmu. Tapi aku tak bisa terus memaksamu jika kau pun sudah tak mau berusaha. Sampai sekarang pun aku masih memaksamu untuk membuka hatimu. Belajar mencintai. Maafkan aku, Khal,” ujar Tora sambil kembali membelai rambut Khalisa.
Secangkir kopi hitam sudah terminum lebih dari setengah. Segelas Cappucinno hanya menyisakan busa berwarna kecoklatan yang menguap perlahan. Asbak di hadapan mereka terisi abu dan sepuntung rokok. Rintik hujan usai sudah. Khalisa yang sangat merindukan Tora, memandang lama wajahnya. Tora pun membalas, matanya tajam melihat Khalisa. Menembus pupilnya hingga hati terasa berdebar. Ciri khas tatapan Tora yang selama ini dirindukan Khalisa. Tatapan penuh kasih sayang.
Sekian lama saling memandang, Khalisa sadar akan sesuatu. “Tora, kenapa muka kamu begitu pucat? Saat datang tadi kau terlihat segar. Kau kenapa? Sakit?,” tanya Khalisa khawatir. Memang beberapa menit lalu, Muka Tora berubah menjadi putih pekat. Beberapa daerah di mukanya samar terlihat agak lebam. Bibirnya yang merah pun kini berganti putih. Matanya terlihat sembab. “Aku baik-baik saja, Khal. Aku hanya sangat ingin memelukmu,” ujar Tora sangat lirih. Mendengar pemintaan Tora, Khalisa pun memenuhinya. Diulurkan kedua tangannya ke sela-sela pinggang Tora. Lelaki itu pun merangkulkan tangannya diatas pundak Khalisa. Mereka pun berpelukan dalam hangat dan kerinduan.
Selang beberapa waktu berpelukan, dibalik pelukannya, Khalisa melihat ke pinggir jalan. Dilihatnya banyak orang mengerumuni sesuatu di sisi jalan itu. Bahkan tak lama, datang dua orang polisi mendekati kerumunan itu. Tak jauh dari sana, seorang wartawan berlari mendekati sambil menjinjing kamera. Menurut seorang juru parkir yang melihat kejadian, ada seseorang pria ditabrak oleh sebuah truk. Tak lama setelah keluar dari mobilnya yang diparkirkan, dan baru saja hendak menutup pintu mobil. Sebuah truk yang mengalami rem blong melaju kencang menabrak lelaki naas itu. Tubuhnya terpental tak jauh ke posisi di belakang mobil.
Khalisa merasa penasaran. Ia beranjak dari meja itu dan melihat ada kejadian apa sebenarnya. Tubuhnya yang mungil berusaha dengan susah payah menerobos kerumunan itu. Seketika itu juga, tubuhnya terasa ringan seperti tak teraliri darah. Lututnya gemetaran, tak sanggup menahan tubuhnya. Khalisa berlutut lemas. Giginya bergemeletuk kencang. Nafasnya semakin menderu. Tangisnya membuncah. Dihadapannya terlihat sosok seorang pria yang dikenalnya. Pria yang selama ini selalu dirindukannya rebah tak berdaya. Satu-satunya pria terbaik dalam hidup Khalisa kini meregang nyawa. Tora tergeletak di sisi jalan. Dari pelipisnya mengucur darah kental. Mukanya penuh lebam. Dari hidungnya tak lagi berhembus napas.
Khalisa melihat ke arah meja di kafe tadi. Secangkir kopi hitam yang dipesannya untuk Tora belum beranjak sedikitpun dari tempatnya. Sejak pelayan tadi meletakkannya di meja, tak sedikitpun cairan hitam itu yang terminum. Secangkir kopi itu ditinggal oleh orang yang menginginkannya. Begitupun Khalisa, ia ditinggalkan oleh orang yang begitu mencintainya. Kini, Khalisa meratap dalam sesal. Ia belum sempat memberikan sedikitpun cinta kepada Tora.
Cibitung, 14 – 15 Oktober 2010
Duuuuh ending nya menyedihkan… Hiks hiks hiks..
Thanks, this story make me realise something. Great.