Dirlen

Posted: September 23, 2011 in Tak terkategori

Lelaki itu berlari-lari tak karuan entah hendak kemana, tanpa arah, tanpa tujuan. Sesekali terlihat sempoyongan, lalu menabrak apa-apa yang ada dihadapannya, kemudian ia terhempas begitu saja. Tergopoh-gopoh ia mencoba bangun setelah terjatuh, lalu lari kembali. Sementara itu, terlihat terengah-engah seorang gadis berlari kecil membuntuti lelaki itu. Sesekali ia berhenti menghela napas, kemudian berlari kembali, sambil tangannya melambai-lambaikan beberapa helai uang kertas. Setelah makan di warung makan milik si gadis, lelaki itu tidak mengambil uang kembalian. Baru hendak membayar makanannya, sepersekian detik bertatapan mata dengan si gadis, entah kenapa seketika itu juga pria tersebut langsung lari tunggang-langgang setelah sebelumnya uang untuk membayarkan itu ia lemparkan begitu saja. Akhirnya, si gadis terpaksa mengejarnya untuk memberikan uang kembalian itu.

Dirlen, nama lelaki itu, kisah tadi memang benar adanya. Dirlen berlari sekencang itu memang bukan tanpa alasan. Beberapa peristiwa tragis yang menimpa ia dalam perjalanan hidupnya sempat mengganggu psikologisnya. Inilah sebuah cerita perjalanan cinta yang tak pernah terungkap sebelumnya dengan akibat yang sangat mengerikan menimpa kepada seorang Dirlen. Tapi ingat, dia bukan orang gila. Saat penyakitnya tak kambuh, ia menjadi manusia normal biasa. Hanya saja, ketika gangguan psikologis itu muncul, ia selalu merasa dirinya adalah sebuah alat masturbasi. Tentu saja, maksudnya berbagai macam alat  masturbasi yang digunakan oleh wanita untuk memuaskan hasrat seksualnya tanpa harus ada pasangan bercinta.

Kasihan Dirlen, walau tak semua, beberapa gadis di dunia ini, dapat membuat penyakitnya itu kumat. Seperti ketika ia bertatapan sejenak saja dengan si gadis pemilik warung makan tersebut. Seketika itu juga, Dirlen langsung merasa bahwa dirinya adalah alat masturbasi. Ia pun akan merasa sangat ketakutan pada setiap wanita yang ia temui. Dirlen seperti kesurupan, ia menganggap dirinya alat masturbasi, dan wanita-wanita yang mampu membuatnya keringat dingin penuh kengerian itu seolah akan menggunakan ia untuk kepuasan dan kesenangan semata. Ketika kambuh, dalam pandangan matanya, wanita hanyalah sosok yang penuh nafsu belaka. Sedangkan, Dirlen yang merasa sebagai alat masturbasi akan menjadi sangat ketakutan khawatir akan dipakai, dan setelah selesai digunakan, ia akan dibuang begitu saja oleh si wanita.

Gangguan psikologis yang menimpanya ini sangat membuat hidupnya tak nyaman. Ia terpaksa memilih hidup sebatang kara dan meninggalkan keluarganya. Dirlen sendiri sudah mencoba berobat kemana-mana. Mulai dari dukun yang menyuruhnya berlari keliling kuburan hingga tujuh kali putaran tanpa menggunakan sehelai benangpun. Sebab menurut si dukun, begitulah cara mengusir roh mbah Lotkon, setan sakti generasi kedua keturunan mbah Jemtub yang lahir di tahun 543 SM. Hasilnya? Gagal. Mbah Lotkon masih suka merasuki Dirlen (begitu menurut pengakuan dukunnya).

Masih tak patah arang, Dirlen melanjutkan berobat ke seorang tabib pengobatan alternatif. Ia meminta Dirlen memimum ramuan 7 rupa yang terdiri dari 7 jenis dedaunan, 7 jenis bunga-bungaan, dan 7 jenis rempah-rempah, yang kemudian di-blender jadi satu lalu diperas sarinya menjadi segelas air saja. Tidak hanya itu, bahkan Dirlen sampai berobat ke seorang dokter psikolog tenar yang berpraktik di sebuah rumah sakit berpredikat internasional, tentunya dengan biaya yang jauh lebih mahal. “Saya belum pernah menemukan gangguan psikologis seperti ini,” ujar dokter itu seraya mengeryitkan dahi. “Tapi….saya bisa diobati kan, dok?” ujar Dirlen setengah berharap. “Kemungkinan itu masih ada, cuma saya pribadi tak bisa membantu saudara,” balas dokter itu sambil memutar-mutar bolpoin yang digenggamnya sedari tadi, gugup. “Saya tidak gila kan, dok?” Si dokter hening sejenak, kemudian ia hanya mengangkat bahu seraya menengadahkan tangannya. Dirlen menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan setelah mengetahui dokter itu benar-benar tak bisa membantu dan nyaris mengiyakan saat Dirlen bertanya soal kegilaan itu. Berulangkali berobat dari dukun satu ke dukun lain, dokter satu ke dokter lain, tidak memberikan jalan keluar. Dirlen justru nyaris patah semangat.

Awalnya Dirlen seorang yang sangat pendiam, ramah, dan baik hati. Namun ia orang yang cukup tertutup dan agak sulit dalam pergaulannya. Sampai suatu ketika, Dirlen yang pemalu itu, merasakan getaran hebat dalam dadanya. Ia rasakan ketika melihat seorang gadis yang pernah satu kereta dengannya saat hendak berangkat ke kantor. Dirlen sebenarnya pembawaan dirinya cukup dewasa, namun untuk urusan wanita dan percintaan, ia orang yang sangat lugu. Itulah kali pertama peri cinta menembakkan panahnya menusuk dalam ke hati Dirlen, seumur hidupnya baru kali ini ia rasakan apa yang orang sebut, cinta.

Sekonyong-konyong keesokan harinya ia menjadi begitu bersemangat berangkat kerja. Pagi-pagi buta ia sudah berada di stasiun dan kebiasaan ini akhirnya terus berlanjut di hari-hari selanjutnya. Hanya demi melihat si gadis pujaan hati dari kejauhan yang sedang menunggu kereta yang sama. Beberapa kali ia selalu mencoba agar bisa satu gerbong dengan gadis itu, namun Dirlen tak pernah berani untuk duduk sebangku dengannya. Dirlen hanya sekedar mengintip dari kejauhan.  Hatinya berbunga walaupun hanya bisa melihat rambut gadis itu yang lurus panjang tergerai. Padahal gadis itu membelakanginya, dan Dirlen selalu mengambil posisi tempat duduk jauh di belakang si gadis itu. Begitulah, Dirlen yang lugu dan pemalu.

Sampai suatu pagi, ia temukan kondisi stasiun yang begitu ramai, padat, sangat penuh orang. Postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi itu tenggelam dalam sesaknya orang-orang yang sedang menunggu kereta datang. Jangankan untuk melihat kembali si gadis, untuk  berjalan saja sulit ia terhimpit. Untuk naik kereta pun sedemikian sulitnya, ia harus berebut pintu, lorong kereta, hingga kursinya dengan orang-orang lain itu. Beruntung Dirlen, ia melihat ada kursi masih kosong dan lekas diserobotnya. “Syukur, bisa dapat juga tempat duduk,” gumamnya lirih. “Iya benar, jadi tidak perlu capek berdiri.” Suara seloroh jawaban yang tak kalah lirih itu terdengar berasal tepat dari sebelah Dirlen duduk tadi. Perlahan ia menolehkan kepala ke arah datangnya suara, Dirlen terkejut, gadis pujaan yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari kejauhan sudah duduk sebangku dengannya.

Kontan Dirlen tergagap, bibirnya kelu gemetaran, di dahinya menetes keringat seukuran biji jagung, lututnya pun jadi  gemetaran. Ia coba pegangi lututnya sendiri, namun tangannya malah ikut gemetaran. Dirlen memilih diam, tak sanggup berkata sepatahpun.

Sampai beberapa saat, “turun di mana kak?” ujar gadis itu membuka pembicaraan. Tentu saja, belum sempat menjawab, sudah kembali terulang kisah gemetaran Dirlen tadi. Seluruh tubuhnya gemetar kembali. Namun pada kesempatan kali ini, ia mencoba lebih tenang dengan tetap menjaga wibawa dan intonasi suaranya. “Lima stasiun terlewati, baru saya turun di stasiun selanjutnya,” jawab Dirlen dengan suara sengaja dibuat terdengar datar. “Tak apa kan kalau kita mengobrol selama perjalanan? Daripada jenuh,” ajak gadis itu penuh keakraban. Selanjutnya, perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut diisi oleh obrolan mereka. Gadis ini cukup supel dan termasuk yang senang bicara. Dirlen tinggal menjadi pendengar yang baik saja, hanya bergumam mengiyakan, dan sesekali saja ia menimpali. Selebihnya si gadis itu yang lebih banyak berbicara. Semakin lama berbincang-bincang suasana menjadi semakin hangat, mereka pun berkenalan, dan berjanjian untuk bersama naik kereta lagi sore harinya seusai pulang kerja. “Nagiva….Nagiva,” ucap Dirlen sambil menerawang mengulang-ulang menyebut nama gadis itu.

Tidak untuk hari itu saja, mereka akhirnya hampir setiap hari selalu bersama-sama berangkat dan pulang kerja. Menghabiskan tiap waktu diperjalanan dengan mengobrol. Dirlen yang tertutup dan dan kurang pergaulan berubah menjadi Dirlen yang lebih ceria. Mereka tenggelam dalam kisah asmara dan memadu kasih seperti anak muda kebanyakan.

Sore ini, Dirlen begitu antusias mengajak Nagiva, gadis yang sudah sangat dicintainya saat ini, berkunjung ke rumah untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Nagiva setuju. Namun sesampainya disana, orangtua Dirlen tidak ada di rumah. Menurut pengakuan tetangga yang sempat sebelumnya ditanyakan oleh Dirlen, orangtuanya sedang ke kondangan pernikahan yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya sambil menunggu, mereka mengobrol di ruang tamu. Obrolan semakin seru, terkadang mereka terlihat tertawa bersama atau saling mencubit satu sama lain. Memang benar orang-orang bilang, jika wanita dan pria hanya berduaan saja, orang ketiga adalah setan. Benar saja, mereka akhirnya kerasukan. Seketika Nagiva buru-buru mengenakan kembali pakaiannya, sementara Dirlen masih terkulai lemas dengan peluh yang masih membanjiri tubuhnya, usai bercinta.

Setelah peristiwa itu, Dirlen menjadi sangat serius dalam menjalani hubungan asmaranya dengan Nagiva. Ia bahkan berani berjanji akan menikahi Nagiva tidak begitu lama lagi. Dirlen menjalani hidup seperti biasanya, dari berangkat hingga pulang kantor, tak bisa jauh dari Nagiva. Pernah sekali waktu, di kantor tempat Dirlen bekerja sedang kedapatan sebuah proyek yang menuntut Dirlen untuk kerja lembur. Dirlen bergegas menghubungi Nagiva kalau untuk hari itu ia tak bisa pulang bersama.

Dirlen selesai kerja cukup larut malam. Ia masih berkesempatan untuk pulang ke rumah menggunakan kereta terakhir. Dalam perjalanan ke rumah, ketika berjalan melintas di depan sebuah restoran, ia dikejutkan oleh sesuatu hal. Terlihat seorang gadis mirip Nagiva sedang berduaan bergandengan tangan bersama seorang pria dan baru keluar dari restoran tersebut. Saat itu, Dirlen mencoba untuk tak berburuk sangka terlebih dahulu. Namun yang semula ragu, sekarang ia yakin dan memastikan kalau gadis itu benar Nagiva. Ia pikir pria itu mungkin paman Nagiva, karena memang dari paras mukanya bisa dikira kurang lebih sama seumuran dengan paman Dirlen. Dirlen memutuskan membuntuti mereka hendak kemana. Sampai akhirnya, Nagiva dan pria itu masuk ke sebuah hotel tak jauh dari restoran tersebut. Mengetahui hal itu, kali ini Dirlen kembali gemetaran, dengan gelombang getaran yang lebih hebat. Namun dengan gejolak perasaan yang tak sama dengan gemetaran ketika pertama kali Dirlen berbicara dengan gadis itu. Hatinya kini hancur.

Dirlen selama ini salah mengira. Saat sore, Nagiva bukan pulang dari bekerja seperti apa yang selama ini ada dalam pikiran Dirlen. Melainkan ia ternyata sore itu baru berangkat bekerja, tentu saja bekerja sebagai pelacur. Dan pria tua dengan paras seumuran paman Dirlen tadi adalah salah seorang hidung belang. Tentu, saat pagi itulah, bukan jam berangkat kerja, melainkan jam pulang kerja bagi Nagiva setelah melayani beberapa lelaki hidung belang semalaman suntuk.

Setelah itu Dirlen menghabiskan hidupnya dengan penuh kesedihan dan penyesalan. Ia begitu meratap, melamun sepanjang waktu. Beberapa hari sempat sakit dan tidak masuk kerja. Ia berjalan terasa membawa beban yang begitu berat. Beban luka di dada.

Suatu saat, telepon genggam Dirlen berbunyi, pertama kali didengarnya suara seorang wanita dewasa. Dirlen diajak bertemu dengan wanita ini untuk bergabung membantu bisnisnya. Setelah akhirnya bertemu dan mendapatkan penjelasan tentang bisnis yang akan dijalankannya itu, Dirlen sepakat membantu. “Lumayanlah, siapa tahu dengan kegiatan baru ini, aku bisa lupa dengan masalahku,” ungkap Dirlen dalam hati. Memang benar, harinya menjadi lebih berwarna, dan ia sudah menjadi lebih bersemangat dalam menjalani kegiatan sampingannya itu.

Tante Dolly, begitu wanita itu biasa dipanggil oleh Dirlen. Memang Dolly sedari awal perkenalan menolak  dengan panggilan ibu, ia tak suka sebab ia merasa jauh lebih tua jika disebut seperti itu. Dolly memang wanita yang luar biasa, selain cantik, anggun, ramah, baik hati dan ia punya bisnis dimana-mana. Dirlen sempat mengakui kalau Dolly jauh lebih cantik dan anggun daripada Nagiva. Dolly pun tak pernah menyadari kalau Dirlen sesekali mencuri pandang cukup lama untuk mengagumi kecantikan Dolly.

Pada babak selanjutnya, Dolly menyadari kalau Dirlen tertarik pada dirinya. Saat itu Dolly langsung menanyakan kepada Dirlen, ia pun mengaku merasa cukup nyaman berada di dekat wanita yang cukup jauh terpaut umur dengannya itu. Dirlen pasrah dan rela apabila ia diminta untuk segera berhenti dan meninggalkan bisnis yang selama ini menjadi pelariannya itu. Namun, Dirlen justru terkejut, ketika Dolly mengatakan kalau ia pun merasakan hal yang sama.

Dari hubungan bisnis, berlanjut ke hubungan asmara antara mereka berdua. Dirlen kembali mengukir kata cinta di hatinya yang setelah sekian lama baal. Mereka berenang dalam lautan asmara hingga bersama tenggelam sedalam-dalamnya. Dirlen jatuh cinta lagi. Sampai akhirnya pada satu kesempatan, saat hari libur, mereka berniat untuk mengecek kantor. Sekali lagi benar, mereka hanya berdua di kantor, dan setan menjadi orang ketiga. Dan akhirnya, terlihat sementara Dolly sudah berpakaian, Dirlen masih terkulai lemas di atas meja kerjanya.

Dirlen tidak hanya sekali melakukan itu seperti ketika ia dengan Nagiva. Bahkan kantor yang selama ini dijadikan tempat untuk berbisnis, sekarang sering juga dipakai untuk mereka bercinta. Bersama Dolly hubungan asmaranya penuh gelora nafsu. Dirlen yang lugu sebenarnya sempat merasakan bimbang, apakah sebenarnya model hubungan seperti ini yang dia inginkan. Namun, apa kata, Dirlen sudah terjebak dalam cinta yang memang terkadang memerangkap. Sementara itu, memang dengan cara ini dia bisa benar-benar melupakan kesedihannya.

Beberapa bulan kemudian, Dolly meminta Dirlen yang sedang asyik bekerja di meja kerjanya untuk mengantar temannya ke suatu tempat. Dirlen pun bergegas menuruti perintah bos yang sekaligus kekasihnya ini. Tugas itu tidak hanya sekali diberikan kepadanya, ia sekarang menjadi lebih sering kebagian tugas untuk mengantar teman Dolly kemanapun ia mau.

Tante Kliry, begitu ia biasa dipanggil oleh Dirlen. Seorang wanita karir dengan penampilan cukup modern namun tetap terlihat bersahaja. Tak kalah cantik parasnya dengan Dolly. Namun badannya jauh lebih ramping daripada Dolly yang terkesan agak montok. Beberapa kali Dirlen dan Kliry berpergian bersama, dari belanja, salon, sampai mengantar ke rumah Kliry kembali. Sampai suatu saat Kliry yang memang akhirnya telah tertarik pula dengan Dirlen, mencoba merayunya untuk mau bercinta. Dirlen tak kuasa menahan dan jatuh ke pelukan Kliry. Mereka pun menjalin hubungan percintaan tanpa sepengetahuan Dolly. Akhirnya, sesekali Dirlen berduaan dengan Dolly, namun beberapa saat kemudian sudah kembali ke pelukan Kliry. Hal itu menjadi rutinitas baru bagi Dirlen. Hidupnya sekarang habis dipakai untuk bercinta dengan Dolly dan kemudian berganti Kliry. Hidup yang cukup menjijikan, namun Dirlen sudah terjebak dalam jebakan pelariannya sendiri.

Suatu hari, Dirlen menemukan telepon genggam Dolly ketinggalan di meja kerjanya, sementara Dolly sudah di jalan menuju ke bandara karena ada acara di luar kota. Dirlen berniat menyusul ke bandara, di perjalanan telepon genggamnya berbunyi, ia pikir ada telepon masuk ketika itu. Tak sengaja ia tekan salah satu tombolnya ternyata ada sebuah pesan singkat dikirim ke telepon genggam Dolly. Nama pengirimnya sudah tak asing bagi Dirlen, tertulis di layar, Nagiva. Bukannya menutup pesan singkat yang bukan ditujukan untuknya itu, ia malah membuka dan membacanya. Pesan singkat dari Nagiva yang ditujukan ke Dolly itu berbunyi, bagaimana pelayanan Dirlen? Kamu bisa dipuaskan dengan dia bukan? Dirlen muntab. Peristiwa gemetaran kembali melanda dirinya. Getaran yang beberapa kali lipat lebih hebat seperti yang sebelumnya ia pernah rasakan. Hati Dirlen remuk redam. Perasaannya berantakan. Pandangannya menghitam, kabut amarah dan pasrah menggelapi pikirannya. Ia terduduk kaku, tak sanggup berbuat sesuatu.

Dolly selain wanita pebisnis ia juga seorang tante girang yang sebenarnya sudah mengenal Nagiva sebelumnya. Bahkan Dolly mendapatkan kontak Dirlen darinya. Dolly yang selama ini merasa kesepian dan membutuhkan seseorang untuk melampiaskan hasrat seksualnya meminta bantuan kepada Nagiva agar dicarikan seorang lelaki yang bisa memenuhi keinginannya itu. Pilihan jatuh kepada Dirlen yang malang. Kliry, pun tak jauh beda, hanya seorang wanita yang ingin melampiaskan hasrat seksual yang selama ini tertahan. Ketika itu Kliry meminta kepada Dolly untuk berbagi Dirlen. Ya, Dirlen yang lugu dan malang itu.

Setelah peristiwa itu, Dirlen menghabiskan waktu dirumahnya. Dari hari ke hari ia tak mau beranjak dari tempat tidurnya dan hanya menangis. Penyesalan yang sangat mendalam menguras habis isi hati Dirlen. Sampai suatu ketika ada seorang sales girl mengetuk pintu rumahnya. Dirlen kontan membukakan pintu dan seketika itu juga sudah berdiri sesosok wanita yang menawarkan sebuah barang. Belum sempat satu pun kata keluar dari mulut si wanita itu, Dirlen sudah lari ketakutan. Ia masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya. Dirlen bersembunyi di bawah tempat tidur hingga sepanjang malam. Ia tak mau beranjak keluar dari situ, badannya menggigil, keringat dingin, terus gemetaran. Inilah pertama kali Dirlen merasakan gangguan psikologis yang menghantuinya hingga kini itu. Ia merasa sebagai alat masturbasi ketika melihat seorang wanita. Memang walaupun tidak semua wanita bisa membuat penyakitnya kambuh. Ia masih bisa menjalani hidup normal, walaupun beberapa kali penyakitnya itu sempat kambuh kembali. Ya, hidup normal bagi Dirlen saat ini adalah duduk membeku dan menangis sepanjang hari. Sesekali ia keluar rumah hanya untuk bertemu dengan dukun, tabib, atau dokter psikolog itu.

Tangisannya terdengar hingga dua blok dari rumahnya. Suaranya terdengar sendu dan terkadang begitu menyayat telinga. Hati siapapun yang mendengarnya akan ikut terasa teriris. Ibu-ibu yang tak sengaja mendengar itu pun akan ikut menangis. Sampai-sampai anak-anak yang biasa bermain hingga malam, kini memasuki petang mereka sudah berada di dalam rumah, ketakutan. Tak ada satu pun warga yang berani mendekati rumah Dirlen. Karena penyakit gangguan jiwa dan kebiasan anehnya yang tak pernah berhenti menangis itu, akhirnya warga menjuluki Dirlen dengan sebutan ’Alat masturbasi yang selalu menangis’.

Suatu ketika Dirlen merasa sangat lapar. Ia memutuskan untuk membeli makan di sebuah warung makan beberapa blok jauhnya dari rumah. Diusapnya air mata yang selama ini terus mengalir perlahan membasahi pipi hingga bajunya. Ia pun keluar rumah menuju warung makan tersebut.

Semua keadaan masih normal sampai ketika ia ingin membayar semua makanan yang sudah dimakannya. Sampai ia bertatapan dengan seorang gadis pemilik warung makan tersebut. Dilemparkannya begitu saja uang yang hendak dibayarkannya itu, dan Dirlen lari terbirit-birit sambil kembali menangis. Gadis pemilik warung itu terkejut, ia segera mengambil uang kembalian dan berusaha mengejar Dirlen. Peristiwa kejar-kejaran itu terus berlanjut sampai dua blok jalan terlewati. Dirlen lari tak tentu arah, ia sekarang sudah berada agak ke tengah jalan dan terus kencang sekencang-kencangnya berlari. Tak disadarinya, sebuah mobil model APV melaju kencang mendekat ke arah Dirlen. Sepersekian detik kemudian … Braaaakkkk!

Dirlen tersentak, nafasnya tersengal-sengal, dari dahinya mulai menetes keringat dingin. Astaga, astaga, hanya kata itu yang terucap berulang kali dari mulutnya. Sambil mengusap keringat yang mulai membasahi mukanya ia mencoba menenangkan diri sendiri. Dirlen baru tersadar ia baru saja terbangun dari tidurnya dan mendapati ada sesuatu yang menempel lengket di celananya yang terlihat kuyup. Dirlen bermimpi basah. []

Cibitung, 22 – 24 September 2010

Sebuah karya pelarian, setelah merasa

sangat suntuk bekerja di hutan, yang

penuh serigala, buas dan rakus.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s